Showing posts with label Crime Fiction. Show all posts
Showing posts with label Crime Fiction. Show all posts

Tuesday, August 20, 2013

The Mystery of the Yellow Room



Title: Mystery of Yellow Room
Original Title: Le mystère de la chambre jaune
Author: Gaston Leroux
Publisher:  VisiMedia Pustaka (2013)
ISBN: 9789790651869
Pages: 327 pages
Original Published Date: 1907


Cuplikan dari sinopsis:
Joseph Rouletabille, wartawan muda yang juga detektif amatir bersaing dengan Frederick Larsan, seorang detektif profesional dalam mengungkap sebuah misteri kejahatan yang terjadi di sebuah ruangan tertutup, "kamar kuning". Mademoiselle Stangerson - anak tunggal Profesor Stangerson, seorang ilmuwan terkenal - nyaris terbunuh di kamar itu. 

Bagaimana kejahatan dapat terjadi di tempat yang tidak bisa dimasuki oleh orang lain? Bagaimana pelaku bisa keluar dari ruang tertutup? Apa motif di balik tindakan pelaku? Siapa pelakunya? Bagaimana pula Roulletible membongkar kasus tersebut dengan begitu mencengangkan?

Jika di Inggris ada Sir Arthur Conan Doyle dan di Amerika ada Edgar Allan Poe, di Prancis ada Gaston Leroux yang tak kalah piawai merangkai cerita detektif. Mystery of Yellow Room ini adalah karya monumentalnya!

Di antara novel-novel crime fiction klasik terbitan Visimedia bbrp waktu belakangan ini --Lupin, Raffles, Lecoq, Dupin, Father Brown, Notting Hill-- kisah Leroux yang satu ini sukses jadi favorit saya. Misterinya rumit, kelokan-kelokannya alurnya cukup unik, sedangkan penyelesaiannya sangat memuaskan.

Kisah diawali dengan pemberitaan nyaris terbunuhnya Mmle. Stangerson di dalam sebuah kamar yang terkunci rapat dan dengan jendela-jendela berteralis di sebuah pavilliun di daerah terpencil. Senjata yang digunakan ditemukan di dalam kamar berikut jejak tangan berdarah si penyerang, namun penjahatnya sendiri raib tak berbekas. Korban yang kemudian sadar menutup mulut rapat-rapat tentang siapa dan bagaimana hal ini terjadi. Tunangan Mmle. Stangerson, M. Robert Darzac, tampaknya mengetahui siapa si penyerang dan motif kebungkamannya, namun ia lebih memilih ikut menutup mulut (walaupun kemudian terancam hukuman mati karena dituduh sebagai si penyerang) daripada mengkhianati kepercayaan wanita tersebut.

Joseph Roulletible, wartawan investigasi, dan M. Jean Sainclair, pengacara yang mengenal M. Darzac, berusaha menyelidiki fakta-fakta yang sebenarnya, meskipun semakin banyak bukti-bukti yang dibawa Detektif Polisi Frederick Larsan yang menuding M. Darzac sebagai pelakunya.

Misteri kemudian menjadi semakin memusingkan karena si pelaku bahkan mampu menghilang dari kepungan Detektif Larsan, Roulletible dan si Penjaga Rumah di sebuah koridor tertutup di Chateau du Glandier, rumah M. Stangerson.

Saat Mmle. Stangerson kembali hampir tewas tertusuk dan M. Darzac ditahan sebagai pembunuh, Roulletible memilih pergi Amerika, ke awal kisah yang sesungguhnya, hanya berbekal potongan percakapan yang pernah didengarnya serta kepercayaannya pada M. Darzac, dan berharap kemampuan intuitif dan berpikir logisnya mampu menghindarkan kisah cinta Mmle. Stangerson dan M. Darzac pada akhir yang tragis.


****

Wow! Itulah kesan pertama saat saya membaca penjelasan Roulletible tentang kejahatan ruang tertutup yang terjadi di awal kisah. Kesan keduanya adalah.... "ooo gitu to, harusnya aku juga tau itu!" karena seperti kisah-kisah penyelidikan Poirot, semua fakta-fakta penting telah dijabarkan dengan halus tapi lengkap di sepanjang alur cerita. Bahkan peta lokasi cerita dan bagan ruangan beserta letak jendela-jendela dan pintu-pintunya juga disertakan di dalamnya. Pembaca boleh merasa ditantang untuk ikut memecahkan kasus ini, yaitu bagaimana tindak kejahatan di ruang tertutup itu dapat dilakukan, meskipun masalah motif disimpan rapat-rapat, dan baru diberikan di bab paling akhir dari novel.

Sedangkan untuk misteri pengejaran di koridor rumah Chateau du Glandier, saya sedikit kurang terkejut --malah sebenarnya menjadi petunjuk utama siapa si pelaku si*l*n ini sebenarnya, sebelumnya saya sama sekali tidak punya gambaran-- karena seingat saya salah satu novel Agatha Christie pernah memakai trik yang sama persis. (saya lupa judulnya, kasus mrs. marple, kejadiannya di rumah besar tempat perawatan atau semacamnya)

Endingnya dibuat sangat dramatis, dengan penyelesaian yang tak terduga-duga (saya membayangkan Pak Hakim dan para polisi Paris itu kalang kabut mengejar si pelaku sesungguhnya sekaligus maaaakaaan ati sekalee dengan tindakan Roulletible yang.... yah demikianlah. he3x). Sedangkan untuk sosok Roulletible sendiri, sangat dimanusiawikan dengan memperlihatkan keadaannya yang tertidur pulas kelelahan, saat M. Sinclair sedang mengomel panjang lebar.


****


Oh iya, jika saya merasa bahwa banyak kemiripan tipe penceritaan misteri ala Gaston Leroux ini dengan novel-novel AC, ternyata memang demikian adanya. Dari endorsment di sampul belakang buku ini dituliskan:
Novel ini menakjubkan Agatha Christie dan mengilhaminya untuk menulis novel sejenis, hingga dia menjadi novelis perempuan dengan genre detektif paling terkenal seantero dunia.
Jadi ya gak heran kalau memang sejenis dan setipe. Hanya saja beberapa tokoh-tokoh utama AC seperti Poirot sedikit lebih pasif dan lebih suka duduk dan berpikir, mengurutkan fakta-fakta dan mengurainya satu-persatu dan mengirim orang lain (Japp, Battle, Hasting) untuk untuk mengumpulkan fakta-fakta di lapangan,  Roulletible juga memerlukan "duduk diam dan bepikir" namun ia juga "seaktif anjing pelacak" dalam mengumpulkan barang bukti dan fakta di lapangan.

Dan juga, kalau Poirot bentuk kepalanya bulat telur, kepala Roulletible berbentuk bulat peluru. #apaansih #gapentingbanget :p :p :p

M. Leroux sendiri mungkin lebih dikenal pembaca dari kisah historik-tragis Phantom of the Opera. Namun sebenarnya, ia juga sangat terkenal sebagai pengarang kisah-kisah misteri dan detektif. Misteri di kamar kuning ini kerap dianggap salah satu kisah kejahatan ruang tertutup terbaik sepanjang masa, dan karier Roulletible dalam dunia fiksi berkelanjutan hingga delapan novel (semoga VisiMedia tertarik untuk menerbitkan kisah-kisah selanjutnya).


****


Edisi Bahasa Indonesia dari VisiMedia ini translasinya enak dibaca. Typo hanya terbaca satu buah (h.302 sehinga --> sehingga). Terbitan ini menyertakan pula denah dan bagan seperti yang saya sebut di atas, tapi tampaknya asli dari jaman menulis masih memakai mesin ketik, jadi bagannya (h. 56 dan 163) juga masih sangat seadanya dan terputus-putus. Denah hal 163 juga salah menulis keterangan (Frederic Kamar Larsan --> Kamar Frederic Larsan). Hal lain, di beberapa halaman, ada tempelan ilustrasi, sebagian berupa clip art (gak masalah), sebagian lagi berupa foto hitam putih. Nah, format tulisan warna hitam
di latar belakang gambar greyish tone (seperti di h. 42 dan 198) ini jadinya agak sulit dibaca. Usul: kalau boleh lebih baik kalau dihilangkan saja.

Covernya, saya suka. Warna kuningnya sangat menyolok, apalagi dengan tulisan berwarna merah. Ilustrasinya (jendela plus beberapa serangga dan laba-laba?) meskipun tidak ada hubungannya dengan cerita,tapi tetap berkesan misterius. Judul, dari GoodReads dan Google, title asli edisi bahasa inggris yang saya lihat berbunyi The Mystery of the Yellow Room, Namun di sini hanya dituliskan Mystery of Yellow Room. Tidak salah sih, cuman agak aneh aja. (what yellow room? which one?)
ETapi kenapa ya judulnya (di cover dan di halaman KDT) harus ditulis seperti ini: MysTerY < -- alay jablay sekalee #galau

Wednesday, January 16, 2013

The Hunter


Title: The Hunter (Pemburu)
Original Title: Kogoeru Kiba - 凍える牙
Author: Asa Nonami - 乃南アサ
Publisher: Gramedia Pustaka Utama (2012)
ISBN: 9789792289695
Pages: 536 pages
Original Published Date: 1996

Sebuah novel yang (menurut saya) memotret kerja polisi secara lebih real, bukan hanya aksi-aksi seru nan heroik dan keberhasilan memecahkan kasusnya namun juga proses-proses penyelidikan yang panjang berhari-hari bahkan berbulan-bulan, kebuntuan-kebuntuan yang membuat frustasi, menguras energi dan kekuatan fisik dan mental dan juga tugas-tugas membosankan seperti melacak tiap-tiap cercah saksi dan bukti, membuat laporan, dimarahin atasan dan disirikin teman sesama detektif polisi. Yang lebih membuat beda, sampai akhir kasus, pasangan detektif Otomichi dan Takizawa yang tidak cocok -meskipun timbul rasa hormat antara keduanya- tetap saja tidak cocok ataupun berteman. Mungkin ini sekedar celah untuk pembaca dapat berharap adanya seri-seri selanjutnya, atau mungkin juga, novel ini memang beda.

Kisah dibuka dengan berapi-api. *sungguhan* Seorang pria yang sedang duduk makan di sebuah restoran keluarga tiba-tiba dilalap api yang muncul entah dari mana. Api kemudian menghanguskan sebagian ruko tempat restoran itu berada. Ketidak laziman kasus ini, ditambah kecurigaan akan adanya arsonist, membuat pihak kepolisian metropolitan Tokyo menyelidikinya secara serius dan bahkan membuat sebuah operasi gabungan antara detektif-detektif penyelidik, unit reaksi cepat plus public relation dan hotline service untuk berhubungan dengan masyarakat luas. Dari hasil otopsi didapatkan bahwa api berasal dari gesper sabuk korban yang terhubung dengan bom kimia. Korban ternyata adalah seorang "penyedia jasa gadis SMU" yang berkantor di lantai 3 ruko tersebut. Di kaki korban juga terdapat luka bekas gigitan anjing besar.

Setelah beberapa lama diselidiki tanpa hasil memadai, kasus ini mendingin dan terancam tidak terpecahkan, jika saja tiba-tiba jatuh korban lain yang terhubungkan dengan kasus ini dalam hal luka gigitan anjing. Korban kedua bukan cuma digigit anjing besar, tapi MATI digigit anjing besar di daerah lehernya. Korban kedua disusul korban ketiga. Karena penyelidikan korban-korban ini tidak membuahkan hasil, penyelidikan kemudian difokuskan pada si pelaku kejahatan, seekor anjing serigala yang sangat terlatih, mengincar target-target tertentu, dan... berukuran sangat besaaaaaar. *teringat Jacob* #eaaa

Dan sebagai karya seorang penulis wanita Jepang, tidak afdol kalau tidak menyinggung sedikit tentang kondisi sosial Takako Otomichi sebagai seorang wanita yang masih terbilang muda, lumayan cantik, telah bercerai, anak pertama dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan, dan menekuni profesi yang didominasi oleh kaum pria. Hal ini kemudian disandingkan dengan keberadaan Takizawa, seorang detektif senior yang sinis dan pemarah, namun ternyata juga menyimpan masalah pribadi yang lumayan ribet. Bekerja sebagai detektif wanita sudah cukup sulit, namun bekerja sebagai detektif wanita yang berpartner dengan tipe klasik alphamale ala Takizawa sungguh hampir mustahil. Dari yang dicuekin sampai diteriakin. Ditambah lagi persoalan-persoalan yang dibawa oleh Tamako, adiknya (yang sekali lagi juga menggambarkan posisi wanita di Jepang). Tapi semuanya ditelan Takako bulat-bulat. Dan dengan berbuat demikian, dia berhasil mendapatkan rasa respek dari orang-orang di sekitarnya. Walaupun terasa sedikit sebagai tempelan belaka, tidak terikat alur dengan penyelidikan utamanya, namun keberadaan masalah di latar belakang mereka berdua ini menjadikan karakter-karakter yang ditampilkan lebih manusiawi dan menjadikan cerita "polisi" dalam novel ini lebih kompleks dan berwarna, dan bukannya sekedar robot-robot penyelidik tanpa emosi.

Untuk ukuran novel Jepang (dibandingkan Out atau Tokyo Zodiac Murders misalnya) alur dan detail-detail yang diusung tidak terlalu keras. Walau ada sedikit berdarah-darah, tapi masih lebih memfokuskan pada penyelidikan kasusnya sendiri. Endingnya sendiri cukup mengejutkan dengan adanya kelokan tak terduga tentang masalah bakar-membakar dan gigit-menggigit. Adegan pengejaran si anjing serigala-nya sendiri, lumayan asyik diikuti. Mengejar anjing serigala pembunuh, menggunakan motor, melintasi kota Tokyo dari ujung ke ujung, di pagi buta, pake acara menutup jalan tol segala. Kereeenn! :p

Penyelesaian kasusnya juga terasa sangat khas kisah oriental. Lugas dan tidak bertele-tele, dan tanpa pemaksaan happy ending ala hollywood. Misi balas dendam seorang ayah yang tertunda sekian tahun lamanya, ternyata tetap tidak mampu dituntaskan, malahan menyisakan kesedihan dan kesia-siaan. Loyalitas seekor anjing, diselesaikan dengan gaya harakiri yang mengibakan. Para pelaku kejahatan dibawa ke hadapan hukum. Tim penyelidik gabungan kepolisian dibubarkan dan langsung menangani kasus-kasus lain, bahkan tanpa para pemainnya sempat mengucapkan kata perpisahan.... Yeah, life goes on.
(eh ini buku bakal ada sequelnya ga ya??)

Catatan tambahan:
1) Novel ini memenangkan Naoki Prize tahun 1996. Naoki Prize sendiri merupakan penghargaan bergengsi di lingkungan penulis Jepang yang diberikan untuk "the best work of popular literature in any format by a new, rising, or (reasonably young) established author". Senang sekali akhir-akhir ini GPU memutuskan untuk lebih sering menerjemahkan novel-novel Jepun seperti ini.

2) Ternyata setelah bukunya diterbitkan, kisah ini telah 3 kali difilmkan, dua kali oleh TV Jepang (Asahi dan NHK) dan sekali oleh Studio Film Korea. Jadi pengin nonton nih.
- Onna Keiji Otomichi Takako ~ Kogoeru Kiba (TV Asahi - 2010)
- Kogoeru Kiba (TV NHK - 2001)
- The Howling (Opus Pictures Korea - 2012)

3) Ebaru tahu, kalo Hayate tuh artinya Topan (padahal ngikutin manga Hayate, Combat Butler sejak kapan taun gitu lo).... *haddeeh*

Sunday, September 16, 2012

The Tokyo Zodiac Murders


Title: The Tokyo Zodiac Murders (Detective Mitarai's Casebook)
Original Title: Senseijutsu Satsujinjiken
Author: Sōji Shimada
Publisher: PT Gramedia Pustaka Utama (2012)
ISBN: 9789792285918
Pages: 360 pages
Original Published Date: 2005



Kisah dibuka dengan pengantar dari Ishioka Kazumi, seorang detektif amatir dan ilustrator media. Ia dan teman baiknya, Mitarai Kiyoshi, juga seorang detektif dan astrolog, sedang membuka kembali kasus pembunuhan masal tak terpecahkan yang terjadi di Tokyo tahun 1936, terhitung 43 tahun yang lewat dari seting novel ini. Dari sini, pembaca akan dibawa dalam kegilaan pikiran Umezawa Heikichi, seorang seniman yang ingin menciptakan Azoth, seorang wanita sempurna, dari potongan-potongan keenam anak gadisnya. Ambisi aneh ini terungkap dalam sebuah surat yang ditemukan setelah sang Seniman mati terbunuh dalam ruang studionya. Anehnya, meski dia telah tewas, selang beberapa waktu, putri tertuanya juga ditemukan tewas di rumahnya sendiri. Belum cukup kejanggalan ini, beberapa hari kemudian keenam putrinya yang lain menghilang dari sebuah onzen (tempat pemandian air panas). Jenazah keenam putrinya ini kemudian ditemukan satu-persatu di berbagai tempat yang telah dijelaskan dalam surat Heikichi. Semua jenazah masing-masing kehilangan sebagian anggota tubuhnya, sesuai surat tersebut. Tidak ada penjelasan logis atas semua yang terjadi, atau yang tidak terjadi. Apakah seseorang -selain Heikichi- telah berbagi kegilaan itu dan benar-benar menciptakan Azoth? Atau ini hanya murni pembunuhan bermotif dendam terhadap rumah tangga Umezawa? Tidak ada yang benar-benar tahu. Istri kedua Heikichi, Masako, memang telah didakwa melakukan pembunuhan tersebut dengan bukti-bukti cukup, namun masih banyak hal ganjil yang tidak dapat dijelaskan. Peristiwa ini menggegerkan Jepang selama beberapa waktu, namun kemudian mereda tanpa adanya perkembangan berarti. Hingga sebuah surat yang dituliskan seorang pensiunan polisi yang baru meninggal (saat peristiwa pembunuhan terjadi, polisi tersebut baru saja bertugas sebagai detektif muda) disampaikan kepada Mitarai. Sebuah surat yang sedikit menyibak tabir misteri pembunuhan keenam gadis Umezawa. Namun siapakah Azoth yang sebenarnya?

***



Novel ini dituliskan dengan gaya Holmes dan Watson. Mitarai sebagai Sherlock dan Kazumi sebagai Dr. Watson-nya. Kazumi yang menulis catatan kasus ini (seperti Dr. Watson), bersama-sama pembaca menelaah setiap bukti yang ada, sedangkan Mitarai mendengarkan dan merenung (dan kadang-kadang ngambek persis seperti Sherlock). Di beberapa waktu, tiba-tiba Mitarai juga menjelaskan beberapa fakta aneh yang berkaitan dengan kasus, namun sering juga dimentahkan oleh Kazumi dengan fakta yang telah terungkap dalam penyelidikan sebelumnya (yang seperti ini belum pernah terjadi oleh Sherlock dan Dr. Watson). Di bagian akhir-akhir kisah, Dr. Watson, ehm maksud saya Kazumi, juga 'diusir' oleh Mitarai dengan dalih ingin berpikir sendiri. Suatu ketika, Mitarai yang sedang buntu pikirannya, mendengarkan Kazumi mengoceh tentang suatu hal (tentang uang yang sobek, sebenarnya), yang kemudian disambung oleh Mitarai tentang pemalsuan uang *eh* dan kemudian BANG! Misteri terpecahkan! *double eh*

Di sini, penulisan novel ini jadi sedikit lebih menarik, karena pengarangnya Souji Shimada, melampirkan sebuah intermezzo (hal 257), yang berisi tantangan bagi pembaca untuk memecahkan misteri yang ada, karena semua fakta telah diberikan pada pembaca. Unik. Sang pengarang berinteraksi langsung pada pembacanya. Bukan lewat tokoh-tokohnya, bukan lewat narasi, namun lewat selembar surat tantangan, bertanda-tangan resmi.

OK. Game's On!

TTZM <-- full spoiler (esp. message #8), don't look unless you've read this book!

Itu sedikit percakapan saya tentang novel ini, sejak pertama melihat covernya. Sampulnya yang putih bersih rapi, hanya dengan tulisan judul dan beberapa gambar (simbol) wanita yang masing-masing kehilangan bagian tubuhnya. Memang sangat eye catching sekali (menurut saya), namun juga sangat mengingatkan pada sebuah kasus yang ditangani Detektif Kindaichi (manga) berjudul Desa Bintang David / The Mummy Curse. Dan setelah membaca setengah buku ini, ternyata memang mirip. Kasusnya memang sangat berbeda, namun trik utamanya sama persis.

Jadi, bahkan sebelum membaca tantangan sang pengarang-pun, saya sudah dapat meraba jalan cerita yang ada. Tentang Azoth-pun sudah saya tebak siapa dalang sebenarnya. Satu fakta yang tidak dapat digantikan, bagaimanapun juga, adalah masalah --k.e.p.a.l.a--. Itulah mengapa novel ini yang disebut oleh banyak orang memiliki misteri yang sangat mengejutkan, jadi kehilangan faktor X nya pada saya. Sayang sekali. Padahal saya menyukai cara penulisannya. Saya menyukai karakter-karakternya. Saya juga menyukai penyelesaian akhirnya. Sayang, sekali lagi sayang. Mungkin separuh kesalahan ada pada saya, yang terlalu banyak membaca novel/manga/nonton film crime-fiction....  ~_~

Ehtapi saya juga salah menilai salah satu karakter utamanya. Saya pikir dia juga terlibat dalam tindak kejahatan ini, karena bagaimanapun, ia telah menyediakan alibi untuk si pembunuh. Tapi dari cerita di akhir kisah, ternyata si pembunuh bertindak sendiri. Karakter yang itu hanya menceritakan apa yg ia yakini benar. Tapi apa mungkin ya..... (1) Seorang Ibu tidak mengenali tanda lahir putrinya sendiri? (2) Ia tidak curiga kalau putrinya itu tidak pulang malam itu, saat Heikichi terbunuh? (3) Ia tidak mengenali putrinya sendiri, walaupun sekian tahun telah lewat?
Menurut pemikiran saya waktu itu, mereka berdua bekerja sama membunuh Heikichi beserta semua gadis-gadis yang lain, menjebak Masako hingga dipenjara, kemudian menikmati semua hasil warisan bersama-sama. Si pembunuh perlu keluar negeri beberapa waktu, hingga kasus tersebut mereda, kemudian ia balik lagi ke samping ibunya, mengaku sebagai seorang saudara jauh yang baru datang dari luar negeri. 
Tapi ternyata saya salah saudara-saudara.... *ngaku* :)


Sunday, July 29, 2012

The Purloined Letter

Judul Cerpen: The Purloined Letter
Pengarang: Edgar Allan Poe

Mendengar nama Edgar Allan Poe, pertama kali yang terlintas dalam pikiran saya tentu saja kisah-kisah seram dan menakutkan semisal Tell-Tale Heart atau The Fall of the House of Usher. Poe memang empunya kisah-kisah penuh teror seperti itu. Namun selain terkenal untuk genre cerita tersebut, Poe juga dianggap sebagai Bapak dari kisah detektif modern. Sir Arthur Conan Doyle sendiri pernah berkata,
"Each [of Poe's detective stories] is a root from which a whole literature has developed.... Where was the detective story until Poe breathed the breath of life into it?"
Karakter ciptaan Poe yang paling terkenal untuk genre ini adalah C. Auguste Dupin. Dupin sendiri bukanlah seorang detektif. Ia adalah seorang gentleman yang hidup di Paris, menyewa kamar berdua dengan seorang teman, narator tak bernama dari kisah-kisahnya. Keterlibatannya dengan dunia kriminal, murni hanya karena kegemarannya berpikir logis dan memecahkan teka-teki, berimajinasi dan thinking out of the box. Karakterisasi tokoh Dupin ini di kemudian hari menjadi inspirasi dan tumpuan banyak sekali tokoh detektif yang lain, termasuk 2 yang paling kita kenal, Mr. Sherlock Holmes dan Monsieur Hercule Poirot.

C. Auguste Dupin sendiri muncul dalam tiga cerpen detektif Poe,The Murders in the Rue Morgue (1841), The Mystery of Marie Rogêt (1842) dan The Purloined Letter (1844). Berbeda dengan Rue Morgue dan Marie Rogêt yang sangat klasik kisah detektif menyelidiki tindak kejahatan, saya lebih menyukai keunikan Purloined Letter. Di sini, tindak kejahatannya terbuka, korbannya ada, pelakunya tidak tersembunyi dan motifnya jelas. Namun keahlian M. Dupin dalam memandang si pelaku secara psikologislah yang membuatnya istimewa.

Sinopsis kisah:
Dupin kedatangan tamu, Monsieur G--, Prefect dari Kepolisian Paris. Sang tamu ini meminta nasihat Dupin untuk sebuah masalah 'sederhana'. Seorang wanita terhormat kehilangan sepucuk suratnya. Yang mengambil sudah jelas adalah Menteri D--. Dengan kepemilikan surat ini D-- akan memeras si wanita bila saatnya tiba. Monsieur G-- yang dimintai tolong 'mengambilkan kembali' surat tersebut, sudah berkali-kali menggeledah rumah D-- seteliti mungkin dan bahkan juga dua kali mencoba merampok D--, namun tanpa hasil. Mendengar masalah ini, saran dari Dupin hanyalah mencari kembali di rumah D--.

Sebulan kemudian Monsieur G-- kembali bertamu ke rumah Dupin. Pencariannya masih nihil. Ia sekarang menyatakan akan membayar 50 ribu francs kepada siapapun yang membawakannya surat tersebut. Mendengar ini, Dupin mempersilakan Monsieur G-- untuk menulis cek tersebut, dan kemudian memberikan surat yang dimaksud.

Bagaimana Dupin bisa mendapatkannya?

Pertanyaan 'bagaimana Dupin bisa mendapatkannya?' inilah yang menjadi inti cerita ini. Pembaca kemudian diajak menganalisis kepribadian D-- tahap demi tahap, hingga kita tahu persis bagaimana cara berpikir si D-- ini. Dengan demikian, Dupin bisa mendapatkan surat itu, karena ia menempatkan dirinya dalam pola pikir si antagonis D--. Metode ini tentu saja sangat umum digunakan dalam genre fiksi misteri/detektif saat ini, dengan mengerti kondisi psikologis atau cara pandang dan pola pikir si penjahat, si detektif dapat memecahkan kasus yang dihadapinya (cara pikir yang sangat identik dengan metode Hercule Poirot, detektif ciptaan Agatha Christie seabad kemudian, dalam menyelesaikan kasus-kasusnya).

Selain metode deduksi psikologis ini, cerpen ini juga mengetengahkan cara 'menyembunyikan daun di tengah hutan' dan jargon masalah paling sederhanalah yang sebenarnya paling rumit. Poe juga sempat memberikan sekilas pengetahuan tentang cara pandang abad itu — sistem politik di Perancis, juga pandangannya terhadap seni sastra dan puisi, matematika dan sains secara umum, memperbandingkan logika sains yang eksak dengan cara berpikir manusia kreatif yang lebih imajinatif.

Dengan semua keunikan yang dimilikinya, tak heran jika cerita pendek yang satu ini kerap dianggap sebagai salah satu kisah misteri terbaik yang ditulis Poe.

***

Edgar Allan Poe (born Edgar Poe; 19 Januari 1809 – 7 Oktober 1849) adalah pengarang, penulis puisi, editor dan kritisi sastra. Ia juga seorang kriptograf (ahli dalam penyandian dan kode). Dia adalah penulis Amerika pertama yang terkenal dan mencari nafkah semata-mata hanya dengan menulis. Dilahirkan Boston, Massachusetts, dan menjadi yatim piatu di usia muda. Sempat menjadi tentara selama beberapa tahun sebelum akhirnya mengundurkan diri.
Karya pertamanya adalah cerpen berjudul MS. Found in the Bottle. Sedangkan puisi naratif Raven mengangkat namanya dalam kemashuran. Kebanyakan kisah-kisahnya bertema suram dan menakutkan, pembunuhan, kekerasan dan sakit secara psikologis. Namun ia juga mengarang banya kisah misteri dan detektif, satire dan juga hoax.
Poe meninggal secara misterius pada 7 Oktober 1949. Penyebab kematiannya hingga kini mengundang tanda tanya. Beberapa rumah yang pernah ditinggalinya kini berubah menjadi museum, di antaranya Edgar Allan Poe Museum di Richmond dan Baltimore, Edgar Allan Poe National Historic Site di Philadelphia dan Edgar Allan Poe Cottage di Bronx, New York.
***

Review ini ikut disertakan pada event Baca Bareng Cerpen Klasik yang diselenggarakan Blog Baca Klasik dan Penerbit Serambi.

Friday, June 15, 2012

OUT - Bebas


Title: Bebas
Original Title: アウト / auto
Author: Natsuo Kirino
Publisher: Gramedia Pustaka Utama (2007)
ISBN: 9789792227604
Pages: 576 pages
Original Published Date: 1997

Masako Katori; Kuniko Jonouchi; Yoshie Azuma; Yayoi Yamamoto;
Inilah empat wanita tokoh utama novel ini. Tiap malam mereka bekerja paruh waktu pada sebuah pabrik pembuat bento (nasi kotak), namun sekembalinya ke rumah, masing-masing menyimpan beban mereka sendiri-sendiri. Masako, yang sering dipandang sebagai figur ketua, mapan, tenang dan terhormat, ternyata merasa semakin menjauh dan terasing dari suami dan anak lelakinya sendiri. Kuniko, selalu tampil bergaya dan modis, dicampakkan kekasihnya dan terlilit hutang sampai di leher. Yoshie, bertangan terampil dan ramah, ditinggal mati suaminya dengan dua anak perempuan yang sangat rentan pada godaan hidup konsumtif ala Jepang dan ibu mertua super rewel yang setengah lumpuh akibat stroke. Sedangkan Yayoi yang naif, muda dan cantik, dengan dua bocah kecilnya, hidup bersama Kenji, sang suami yang gemar berjudi, mabuk dan bertemperamen buruk.

Kehidupan tampaknya tidak bisa menjadi lebih buruk dari itu, monoton, menyiksa dan membosankan. Tapi semuanya ternyata bisa menjadi sangat lebih buruk, saat suatu malam, Yayoi yang sudah tidak tahan pada penyiksaan yang dihadapi, mencekik dan membunuh suaminya. Dengan sedikit kesadaran yang tersisa, ia meminta pertolongan Masako. Masako kemudian dengan kepala dingin merencanakan alibi dan memusnahkan bukti-bukti pembunuhan, termasuk mayat Kenji Yamamoto yang dimutilasi, dengan bantuan Yoshie dan Kuniko, dengan pisau sushi dan gergaji tangan di kamar mandi rumahnya dan dibuang dalam tas plastik-tas plastik sampah di berbagai tempat di Tokyo.

Tampaknya semua berjalan sesuai rencana dan keadaan mulai tenang kembali, saat sebuah potongan mayat muncul di permukaan dan penyelidikan polisi mulai menggali kebenaran dalam kebohongan-kebohongan. Saling memeras satu sama lain dan saling menyalahkan, ditambah ketakutan dan mimpi buruk yang mulai menghantui. Untunglah kecurigaan polisi malah mengarah kepada Mitsuyoshi Satake. Seorang mantan Yakuza yang pernah dipenjara karena membunuh seorang wanita, pemilik klub dan tempat judi di mana Kenji menghabiskan seluruh uangnya. Namun karena kurangnya bukti-bukti, setelah sebulan ditahan, Satake dibebaskan. Saat itu ia telah kehilangan klubnya, reputasinya dan hampir seluruh kekayaannya. Ia kemudian menghilang setelah bersumpah akan membalas dendam pada siapapun yang terlibat pada peristiwa pembunuhan tersebut. Keadaan makin keruh saat Akira Jumonji, seorang lintah darat mulai mencium keadaan sebenarnya. Namun alih-alih memeras atau melaporkan pada pihak berwajib, ia malah menawarkan proposal bisnis mutilasi. 8 Juta Yen per unit. Uang yang sangat banyak, yang mungkin mampu membeli jalan kebebasan bagi mereka semua.

Sebuah novel noir-crime fiction/thriller yang mengangkat nama pengarangnya ke level penulis internasional. Tempo ceritanya lumayan cepat dan alur suspens yang terjaga naik turunnya dan diakhiri dengan ending yang amat sangat tak terduga, baik dari segi pengkisahan maupun psikologis. Sinting sekaligus sangat rasional. Ini bukan tipe cerita polisi-detektif yang mencari tahu pelaku pembunuhan, namun lebih pada jalan kehidupan yang dilakoni para tokohnya dan konsekuensi-konsekuensi yang timbul akibat pilihan yang diambil. Kekerasan yang dideskripsikan dengan detail, terkadang membuat pembacanya bergidik ngeri namun pada saat yang sama menimbulkan sejumlah emosi lain; iba, amarah, kebencian, membenarkan, menyalahkan, menyesalkan. Apapun itu, moralitas memang tidak dipertanyakan dalam buku ini. Karakterisasi para wanita anti-hero yang berjuang demi kehidupan, sedikit banyak lebih mengucurkan simpati dan pengharapan. Pada akhirnya, kebebasan memang dapat diraih. Namun semua ada harga yang harus dibayar. Terkadang dengan nyawa.

Tentang Pengarang:
Natsuo Kirino (桐野 夏生) lahir 7 Oktober 1951 di Kanazawa, Ishikawa Prefecture. Ayahnya, seorang arsitek, membawa keluarga Kirino ke berbagai kota di Jepang sehingga Natsuo menghabiskan banyak masa kecilnya di Sendai, Sapporo, sebelum akhirnya menetap di Tokyo saat berusia 14 tahun. Ia adalah penulis yang sangat subur dan berperan besar dalam booming penulis wanita untuk genre fiksi detektif di Jepang. Tiga novelnya Out, Grotesque dan Real World telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris (Grotesque telah diterbitkan oleh GPU dengan judul Gaib). Out sendiri telah menerima The Mystery Writers of Japan Award (1997), dan menjadi finalis Best Novel untuk MWA Edgar Allan Poe Award (2004), menjadikannya wanita Jepang pertama yang dinominasikan untuk penghargaan literatur utama berskala internasional.

Novel barunya In dijadwalkan terbit tahun 2013.

Adaptasi film untuk Out disutradarai oleh Hideyuki Hirayama dan keluar tahun 2002 dan menurut Variety (on-line edition), New Line Cinema telah membeli hak cipta untuk versi Amerika-nya, dan akan disutradarai oleh Hideo Nakata (Ring, Ring 2).

***

Untuk edisi bahasa Indonesia terbitan GPU ini, penterjemahannya sangat enak dibaca. Saya kurang jelas apakah ini dialih-bahasakan asli dari bahasa Jepang atau dari edisi Inggrisnya, namun yang pasti cita rasa tata bahasanya tetap terjaga (bahasa Jepang memiliki aturan tata bahasa bertingkat, seperti bahasa Jawa ngoko, kromo dan kromo inggil, ditambah lagi penggunaan kosa kata yang sedikit berbeda pada wanita dan pria, dan kalau dicermati, ini masih cukup terasa dalam edisi bahasa Indonesia ini). Typo hanya ada 2 dari 500-an hal, seingat saya, tidak mengganggu. Sampul depannya profil separuh wajah dangan pisau yang teracung, sangat cantik, dingin dan menggugah (meski sediiiiikit lebih suka versi yang saya pasang di atas, karena ada refleksi judul pada bola matanya). Meski masih suka merinding kalau teringat adegan mutilasi di novel ini, tetap ingin baca novel berikutnya, Grotesque.

Tuesday, February 21, 2012

Arsène Lupin, Gentleman Thief


Title: Extraordinary Adventure of Arsène Lupin, Gentleman-Thief
Author: Maurice Leblanc
Publisher: Penguin Classics (2007)
ISBN: 9780143104865
Pages: 279 pages
First Published: 1907

Thanks to Detective Conan series, I got acquainted with this character, a gentleman thief that could change his names, looks and personalities with ease. So, I was provoked to read this book (and the others). It was a delightful experience.
For some parts I thought it was a little dull and predictable, but then again, it was written on early 1900s, so whenever I thought I read those tricks somewhere before, it might had been that this is the book inspired them.
For next time, I wish to read a longer cases -not a short stories like this one- where he could battle with Insp. Ganimard or Herlock Sholmes more viciously. *_*


Title: Arsène Lupin Vs. Herlock Sholmes a.k.a The Blonde Lady
Author: Maurice Leblanc
Publisher: Wildside Press (2001)
ISBN: 9781587154645
Pages: 288 pages
First Published: 1908

On the first series, I thought I wanted a longer stories. Well, I got them in this second installment. But somehow I felt some disapointment. It's not as bang bang as I'd imajined. Sholmes/Shears/whatever was not as sharp and wit as it should be, Wilson was needy and uninteligent, and even Lupin was not as smart and playful as he promised. Ganimard...uh... yeah, better not started talking about that guy.

The Blue Diamond was mediocre. Ruined my imajination by leaving a death body in the process. A gentleman thief should be a smooth seamless thief, not a semi-murderer robber for whatever reason. The captured of Sholmes was predictable (well, at least it should be predictable if he's the real Sholmes!). The comeback was slightly better. And the escape was quite fun. That's the only thing that saved the whole story.
One last thing, the telephone for the seamstress as a code, I remembered the same trick was being used again by Agatha Christie (don't remember which, the man with brown suit or they came to baghdad or ???). I still think it's very clever one!

The Jewish Lamp was ok. The trick with the newspaper messages was savvy, and a score for Sholmes to figured it out. The story line it self was puzzling and interesting, the turn off was how Sholmes could not realizing the culprit until the very end!

I keep on wondering why stories of Arsene Lupin was being told in other people perspective. Sholmes' perspective. Instead of pinpointing the greatness of Lupin's characters, these stories was better showing the incredulity of this Sholmes' version of investigation methodes.

Maybe I just hoping too much from AL, having formed an idea from Detective Conan's Kaito Kid, the gentleman thief (which drawn from AL). I could get --and admire-- the big picture of him, but I still feel the tartness of the details and characters.

Saturday, August 09, 2008

Imitating Holmes

Sherlock Holmes and The Baker Street Irregulars: Stuart Chronicle - Tracy Mack & Michael Citrin

holmesDo you hate when someone change and you don't know who they are anymore. Well, that exactly waht I fell when a fiction character has re-written by another people beside the original writer. No matter how good the new writer wrote the character, it is just not feel right. Beside, if s/he really good, why doesn't s/he write her/his own character rather than using some old famous one.

This is one of those book. Holmes and Watson without Doyle. Nothing classic about it. No suprising twisted. No glorious moments of truth. Holmes is rather puffy and Watson... well, Watson is almost invisible. It just a cheap story dobling up with the Sherlock greatness. Even of you are a BIG mystery reader, it's not worth the effort. Better read the old classic things.