Showing posts with label Children. Show all posts
Showing posts with label Children. Show all posts

Tuesday, February 05, 2013

The Railway Children


Title: Anak-anak Kereta Api
Original Title: The Railway Children
Author: E. Nesbit
Publisher: PT Gramedia Pustaka Utama (2010)
ISBN: 9789792252576
Pages: 312 pages
Original Published Date: 1906


Buku anak-anak yang sebenarnya bagus ceritanya, tapi sedikit membosankan penceritaannya. Kita diceritakan bahwa ketiga anak ini - Bobbie, Peter dan Phillys- sedang bersenang-senang, tapi tidak terbaca bahwa mereka sedang bermain gembira. Atau bahwa mereka sedang sedih, tapi tidak menyentuh hati. Apalagi dengan POV orang ketiga, yang kadang-kadang menyelipkan 'pesan sponsor' untuk jadi anak baik, tabah, dst, dst, yah, jadinya... sedikit tanggung. Padahal latar belakang kisahnya cukup menjanjikan.


Tersebutlah sebuah keluarga, Ayah, Ibu dan tiga orang kakak beradik tinggal di London dengan bahagia. Tiba-tiba sang Ayah pergi menghilang, sedangkan si Ibu dan anak-anaknya pindah entah ke daerah mana, pokoknya rumah mereka itu sangat dekat dengan rel kereta api dan sebuah stasiun kecil. Di sini, ketiganya akhirnya berkenalan dengan pak kepala stasiun, pak porter dan dokter di desa, serta Direktur Kereta Api yang tiap pagi dan sore naik kereta melewati rel di belakang rumah mereka. Nah selama tinggal di pondok itu, ada beberapa petualangan yang cukup seru, misalnya:

1. menghentikan kereta yang lewat karena ada tanah longsor menutupi rel beberapa jauhnya dari situ *kata peter, mereka sudah tidak ada waktu lagi untuk pergi ke stasiun untuk memperingatkan kareta berikut yang akan lewat. tapi belakangan diceritakan tidak begitu jauh dari sana ada pondok penjaga sinyal kereta. ya, brarti kan tidak perlu ke stasiun, ke penjaga sinyal saja, supaya dia tidak memberikan semboyan 40 buat kereta yang mau lewat. tapi kalo begitu, kan kurang heroik kali ya, gak pake acara pingsan di rel kereta juga ;) *

2. menampung dan merawat seorang penulis Rusia bekas tahanan politik yang jadi tentara tapi desersi dan pergi ke Inggris untuk mencari istri dan anaknya *ok, seseorang yg bernasib seperti si Rusia ini bisa saja termotivasi untuk pergi ke London tanpa bisa berkata sepatah katapun bahasa Inggris. yang aneh di sini, sebenarnya setelah ia sampai di London waktu itu --jika tidak mengira harus ganti kereta, lalu sakit, lalu ditolong oleh si Ibu-- terus mau ngapain? nyari anak istrinya tanpa alamat tanpa kenalan tanpa uang tanpa sepatah katapun bahasa Inggris? termotivasi sih iya, kurang realistis juga sangat iya *

3. menyelamatkan bayi si tukang perahu dari kebakaran *uhhm... cuman heran saja, itu si tukang perahu marah-marah gitu cuman karena peter mau mancing, kenapa ya? *

4. dan menyelamatkan seorang anak yang patah kaki di terowongan gelap *ini kejadian yang paling aneh. si anak ini sedang mengikuti acara main jejak-kertas anak-anak sekolahannya. semua anak masuk ke terowongan, si kaus merah ini jatuh, patah tulang, dan pingsan, tapi tak ada satupun temannya yang tahu dan menolong. lalu meskipun tampaknya semua orang -termasuk pak perks si portir- tahu dan meskipun medannya cukup berbahaya, masuk terowongan kereta api yang gelap gulita, tapi tidak ada orang dewasa yang mengawasi jalannya permainan ini. Lebih lagi, mereka main jejak-kertas di terowongan gelap, tapi tidak membawa lampu, senter, lilin atau apapun...lalu mau cari jejaknya pakai apa? mata batin??!? *

Selain itu, yang juga rada aneh di mataku, kenapa anak-anak ini tidak bersekolah ya *Peter baru saja berulang tahun ke-10, kira-kira Bobbie dan Phillys berumur berapa ya?* Meskipun begitu di bagian akhir, saat si Ibu sudah tidak terlalu sibuk menulis lagi, ada beberapa kalimat yang menjelaskan bahwa mereka sekarang belajar bersama ibu mereka. Selain tidak bersekolah, juga tidak ada interaksi antara mereka dengan anak-anak lain dari desa mereka. (lagi-lagi) kenapa ya?

Tapi di balik semua rumble gak jelas di atas *lagi galau*, menurut aku ini buku anak-anak yang tak lekang oleh waktu. Kisahnya yang sederhana dan penuh petualangan pasti sangat disukai pembaca muda. Endingnya juga sangat melegakan. Everything's gonna be OK. The End :D

***

nb: oiya, satu lagi, edisi yang saya baca ini terbitan GPU Juni 2010, di cover buku ini dituliskan pengarangnya Edith Nesbit. Memang tidak salah sih, tapi setahu saya -CMIIW- 'trademark' beliau saat mengarang adalah mencantumkan nama E. Nesbit. Lalu... T_T

Wednesday, January 16, 2013

Dragon Keeper Trilogy

Title: Dragon Keeper
Author: Carole Wilkinson
Publisher: Penerbit Matahati (2008)
ISBN: 9789791141192
Pages: 412
Original Published Date: 2004
Title: Garden of the Purple Dragon
Author: Carole Wilkinson
Publisher: Penerbit Matahati (2008)
ISBN: 979114124x
Pages: 422
Original Published Date: 2007
Title: Dragon Moon
Author: Carole Wilkinson
Publisher: Penerbit Matahati (2009)
ISBN: 9789791141321
Pages: 410
Original Published Date: 2007

Entah kenapa, membaca buku pertama rasanya mengingatkan pada sepenggal kisah Eragon, waktu Eragon pertama kali melarikan diri dari desanya bersama Brom. Ya mungkin karena latar ceritanya mirip seperti itu: anak muda, tidak berpengalaman, ragu-ragu, gak tahu apa-apa, berjalan bersama seekor? seseorang yang sangat tahu dunia, pernah jadi yang sangat hebat tapi sekarang sudah tua, lemah dan sedikit terluka. Tapi Ping bukanlah Eragon, dan Danzi bukanlah Brom+Saphira. Dragon Keeper jauh lebih ringan dan konfliknya bisa dibilang satu dimensi saja. Settingnya yang di jaman Cina kuno tidak banyak memberikan nilai tambah. Meski demikian alur ceritanya lancar mengalir dan sangat enak dibaca. Ada juga detail cerita yang tidak biasa, ternyata si naga bisa nyamar jadi kakek-kakek ;). Lumayan juga, kalau digolongkan sebagai cerita fantasy anak-anak. Semoga sekuel-sekuelnya masih cukup menarik untuk dinikmati.

Sebenarnya mau ngasih bintang 2 saja, tapi saya suka sekali dengan ukiran/gambar timbul naga warna keemasan di sampul buku ini. Jadi tambah satu bintang hanya untuk cover-nya. *_*


***


Berbeda dengan Dragon Keeper yang sangat simpel, sequelnya, Garden of the Purple Dragon jauh lebih kompleks dan menarik. Karakter-karakternya sudah tidak lagi hitam-putih, dan Ping banyak belajar tentang kebohongan dan pengkhianatan, tentang keinginan-keinginan yang saling bertolak belakang dan juga tentang rasa cemburu. Emosi-emosi yang tidak pernah dikenalnya dalam hidupnya yang lurus dan sederhana.

Menyambung alur kisah beberapa saat setelah Danzi dan Hua pergi ke Pulau Penuh Berkah, Ping memutuskan untuk membesarkan Kai -sekarang sudah jadi anak naga yang usil dan penuh rasa ingin tahu- di lereng-lereng Gunung Taisan yang terlarang. Setelah beberapa bulan yang damai, Ping mendapati datangnya teman-teman dan musuh lama. Diawali dengan kembalinya super-Hua (yang diantar seekor Burung Phoenix), kemudian munculnya kembali si Necromancer, sampai pertemuan kembali dengan Sang Kaisar. Keadaan tampaknya masih baik-baik saja, bahkan Kaisar sudah memaafkan Ping dan memberikan jabatannya sebagai pengasuh Naga kembali, juga memberikan taman Pondok Ming Yang dengan nama Taman Naga Ungu. Tapi kemudian Ping nyaris terlambat menyadari bahwa Kaisar kini sudah terobsesi pada kehidupan abadi dan itu mendatangkan bahaya pada Kai. Kejutan-kejutan di akhir kisahnya cukup tak terduga. Tipu daya Kaisar. Pertemuannya kembali dengan keluarganya. Keputusan Putri Ming Yang. Kematian Dong Fang Suo. Keputusan Jun. Nasib Hua dan tikus-tikus Istana *serasa dongeng cinderella* #eaaa.
Yang pasti, setelah mengecap pahitnya pengkhianatan, Ping kemudian belajar pula tentang memaafkan dan rasa persahabatan. Ending yang sangat pas dan memuaskan. Bukan hanya Kai yang tumbuh besar, Ping juga sekarang sudah lebih dewasa.

[Yang sedikit mengganggu adalah plot mengapa Kaisar harus perlu bersusah-susah membuat sandiwara penangkapan si Necromancer. (1) Dia adalah Kaisar yang memegang kekuasaan mutlak, kenapa peduli tentang keinginan Ping (2) Apa tujuannya? Agar Ping mau mencari pengurus naga lainnya? (Bukannya Ping sudah berkali-kali meminta hal itu sendiri) Biar Ping keluar dari lingkungan Pondok Ming Yang? (Sekali lagi, Ping sudah berkali-kali minta untuk keluar mencari pengurus naga lainnya) Untuk memisahkan Ping dan Kai? (Lah, dianya kan Kaisar, tinggal perintah saja to?) Lalu kenapa ya? Aneeh...


***


"Sekarang kau menyesal, setelah terbaring di sini, dalam kegelapan, jauh dari para pelayanmu, dekat dengan maut yang masih siap menjemputmu. Kau tidak akan semenyesal ini setelah nanti kembali ke istanamu!"

Gooooo.... Ping!!!
Puas sekali mendengar (eh membaca maksudnya) Ping mengomeli Kaisar seperti itu. Dan aku merasa kata-kata itu pas sekali. Memang penyesalan selalu datang terlambat. *eh jadi alay jablay gini ripiunya* ;p Kebawa mood-nya Sang Kaisar siihh...
"Aku juga bukannya menawarkan pekerjaan padamu. Aku.... menawarkan hatiku." *Gubraaaaks...* *HAALAAH!!*


Hehehe.... Ya, tapi ini masih cerita Ping dan Kai, si naga kecil. Meski sedikit beralay-alay di awalnya, Ping tetap pada keputusannya untuk membawa Kai ke surga naga. Berbekal peta berteka-teki dari Danzi, Ping menelusuri wilayah kekaisaran dari Beibai terus ke barat, melewati Tembok Besar, menyeberang ke wilayah-wilayah padang rumput, kembali ke wilayah kekaisaran, dan terus mengurai petunjuk arah Dataran Tinggi Naga. Dalam perjalannya Ping kembali dipertemukan dengan Jun, yang sekarang sudah tumbuh tinggi besar dan menjadi saudagar sutra kaya, namun tetap masih merasa bersalah dan berhutang budi padanya. Dengan pertolongan Jun, Ping dan Kai berhasil menemui 8 naga yang masih tersisa. Namun Kai ternyata tidak dengan mudah dapat diterima oleh para naga tersebut, mengingat ia lahir di kandang Kaisar dan memiliki pengasuh seorang perempuan.

Mirip dengan buku pertamanya, buku ini lebih mengkisahkan tentang perjalanan Ping dan seekor naga asuhannya. Jika di Dragon Keeper ada Danzi, maka di buku ini ada Kai, anak Danzi. Bedanya di buku pertama, Ping dan Danzi menemui beberapa musuh yang mengejar-ngejar mereka, sedangkan di buku ketiga ini Ping dan Kai malah bertemu beberapa teman lama dan beberapa teman baru yang membantu perjalanan mereka. Cerita juga lebih difokuskan pada bagaimana Kai mendapatkan tempat di antara para naga, bagaimana Ping juga membantu Hei Lei si naga Halilintar Hitam meninggalkan kepedihannya terhadap manusia dan bagimana Ping merelakan perpisahan yang harus terjadi. Mengharukan memang, tapi tetap harus terjadi dan meninggalkan kenangan indah. *alay lagi*

Aku suka bagian Ping di Istana Beibai di bawah perlindungan Bangsawan Yan yang berakal sehat. Aku suka bagian Ping menemukan Kaisar yang terluka. Aku suka bagian Ping diselamatkan Hou Yi dan bangsa Ma Ren. Aku suka saat Jun membantu Ping dan Kai. Dan aku suka saat Ping membela Hei Lei dengan mengatakan bahwa lebih baik ia yang mati daripada melihat seekor naga lagi menemui ajalnya. Tapi yang paling aku suka adalah bagian di mana kisah ditutup dengan percakapan tentang masa depan antara Ping dan Jun. Tentang rumah yang nyaman dan daun-daun mulberry yang tumbuh subur dalam hujan yang turun. Dibandingkan "lamaran" sang Kaisar yang rada alay, tawaran Jun sederhana dan sungguh-sungguh terdengar tulus.
"Kai sudah berada di tempat yang seharusnya-di dunia para naga. Sekarang sudah waktunya bagimu untuk mengambil tempatmu si dunia manusia."
"Aku tidak pernah punya tempat di dunia manusia. aku sudah mengurus naga-naga sejak umurku empat tahun."
....
"Kau suka mulberry?"


Dan Ping-pun menemukan tempatnya di dunia walau masih bermimpi tentang seekor naga yang berpendar lima warna. TAMAT. #sigh

nb: sayang ya, cover buku ketiga dari terbitan Matahati ini tidak seperti dua buku sebelumnya, yang didominasi ukiran gambar timbul naga berwarna emas dan perak. Meski font judulnya masih sama dan image naganya juga serupa dengan buku-buku sebelumnya, tapi tetap tidak serasi jika dijajarkan seperti di atas itu :p

Sunday, December 02, 2012

Kisah Hidup Paman Gober: Edisi Bundel



Title: Kisah Hidup Paman Gober: Edisi Bundel
Original Title: The Life and Times of Scrooge McDuck
Author:  Don Rosa
Publisher: Penerbitan Sarana Bobo (2012)
ISBN: 9792351345
Pages: 498 pages
Original Published Date: 1984


Seperti.... membaca biografi seorang tokoh, atau malah... perjalanan untuk lebih mengenal seorang teman lama. Disusun dalam 12 Chapter dan dilengkapi beberapa kisah tambahan, novel grafis ini menceritakan kisah hidup Paman Gober semenjak masih kanak-kanak di Skotlandia, berimigrasi ke Amerika dan berpetualang ke seluruh penjuru dunia (termasuk ke Jawa saat Gunung Krakatau meletus), mengenal berbagai tokoh seperti Teddy Roosevelt hingga para bandit Wild West kayak Sundance Kid dan Butch Cassidy, juga cerita-cerita perkenalannya dengan Gerombolan Siberat dan kisah cinta tak berlanjutnya pada Glittering Goldie, hingga akhir kisah yang menjembatani dengan kisah Donal Bebek dan ketiga keponakannya. Paman Gober juga pernah muda lo. Ia tidak menjadi kaya dengan mudah. Ia tidak pelit karena ingin jadi pelit. Kehidupan yang keras selama bertahun-tahun membuatnya menjadi seperti Paman Gober yang kita kenal sekarang.

Novel grafis ini dicetak 500 halaman full color dan dengan kualitas kertas yang apik, sehingga menjadikannya sangat enak untuk dinikmati. Tidak heran kalau langsung jadi salah satu buku favoritku. Salam hormat untuk Don Rosa dan Carl Barks.

**Untuk edisi terjemahnnya ini, sayangnya untuk Chapter 10: The Invader of Fort Duckburg (Serbuan ke Benteng Kota Bebek) nama-nama tokohnya "lupa" diterjemahkan dalam nama-nama yang biasa dipakai di album Donal Bebek. Semisal Dora, si Nenek Bebek masih memakai nama Elvira, begitu juga Dabney, Daphne, Eider, dan Quackmore yang biasanya di-Indonesiakan menjadi Wili, Trince, Andolf dan Kweker (seperti juga gambar dengan silsilah Keluarga Bebek di hal. 42). Sedikit janggal dan mengganggu. Itu saja.**

Friday, October 19, 2012

The Mysterious Benedict Society

Title: Persekutuan Misterius Benedict

Original Title: The Mysterious Benedict Society
Author: Trenton Lee Stewart
Publisher: Penerbit Matahati (February 2009)
ISBN: 9789791141345
Pages: 574 pages
Original Published Date: March 2007
Title: Persekutuan Misterius Benedict dan Perjalanan Maut
Original Title: The Mysterious Benedict Society and The Perilous Journey
Author: Trenton Lee Stewart
Publisher: Penerbit Matahati (January 2010)
ISBN: 9786028590068
Pages: 545 pages
Original Published Date: May 1st 2008
Title: Persekutuan Misterius Benedict dan Dilema sang Tawanan
Original Title: The Mysterious Benedict Society and The Prisonner's Dilema
Author: Trenton Lee Stewart
Publisher: Penerbit Matahati (April 2011)
ISBN: 9786028590280
Pages: 446 pages
Original Published Date: October 2009

Persekutuan Misterius Benedict beranggotakan 4 orang, Reynard Muldoon, George Washington alias Sticky, Kate "The Great Kate Weather Machine" Wetherhall, dan Constance Contraire. Masing-masing dengan keajaibannya sendiri-sendiri. Reynie, yatim piatu, 11 tahun, cerdik pandai dan sangat logis. Sticky, juga 11 tahun, kepalanya gundul pelontos namun semua hal yang sempat terbaca, nempel terus di situ. Kate, 12 tahun, si cewek tomboi atletis yang penuh persiapan. Segala macam benda, mulai senter, benang, tali, pisau sampai teleskop yang menyamar jadi kaleidoskop ada dalam ember (iya, ember!) yang dibawanya kemana-mana. Lalu ada pula Constance, si cilik yang super duper keras kepala dan tak peduli aturan.... sama sekali.

Selain tergolong jenius, keempat bocah ini juga punya satu persamaan. Mereka lulus test sikap, integritas, kepedulian dan keberanian dari Mr. Nicholas Benedict. Mr. Benedict adalah seorang ilmuwan eksentrik yang menduga lembaga Learning Institute for the Very Enlightened (L.I.V.E.) adalah sebuah kedok bagi Ledroptha Curtain untuk menguasai dunia. Karena itu ia membutuhkan beberapa bocah untuk disusupkan sebagai mata-mata di institut tersebut. Dan nasib mempertemukan mereka semua, dengan bantuan Rhonda dan Number Two - keduanya anak angkat Mr. Benedict - dan Milligan, bodyguard merangkap pengasuh yang lupa akan masa lalunya, untuk menggagalkan rencana jahat Mr. Curtain dan mesin pembisiknya.

Di buku kedua, setahun berlalu sejak peristiwa di Institut LIVE. Keempat bocah ini seharusnya berkumpul kembali dengan Mr. Benedict untuk berlibur dan bersenang-senang. Rencana sudah diatur, perjalanan sudah di depan mata. Namun ternyata Mr. Curtain punya rencana jahat lain dan menculik Mr. Benedict dan Number Two untuk membantunya mencari sebuah spesies tumbuhan langka. Persekutuan Misterius Benedict nekad mengikuti jejak-jejak yang ditinggalkan pelindung kesayangan mereka itu sambil harus terus mengecoh para Manusia Sepuluh (para agen suruhan Mr. Curtain yang punya bersenjata sepuluh alat untuk menyiksa lawan-lawannya). Untunglah di saat paling kritis, ada Milligan dan Rhonda, serta para awak kapal Shortcut yang datang membantu mereka.

Sedangkan di buku ketiga, karena Mr. Curtain berhasil lolos di akhir cerita sebelumnya, sekarang keluarga besar Persekutuan Misterius Benedict semuanya tinggal di rumah Mr. Benedict dengan penjagaan penuh. Sayangnya, di antara para penjaga dan juga di antara para petinggi pemerintahan, ada juga mata-mata Mr. Curtain. Dengan menggunakan trik dan umpan, keempat bocah jenius itu terperangkap kepandaian mereka sendiri sedangkan Mesin pembisik sekali lagi jatuh ketangannya. Berbagai macam usaha dirancang Reynie dan dilakukan Kate namun gagal, sampai akhirnya mereka dapat mengirimkan pesan pada Mr. Benedict yang kemudian menyerbu ke penjara markas Mr. Curtain. Pertempuran seru antara para agen pemerintah dan manusia sepuluh pun terjadi, sementara Mr. Benedict dan Mr. Curtain juga berhadapan untuk yang terakhir kalinya.

Keseluruhan cerita kemudian diakhiri dengan merapikan semua benang-benang kisah. Mesin Pembisik dan Salamander hancur berkeping-keping. Penyakit narcolepsy Mr. Benedict tersembuhkan. Mr. Curtain ditangkap dan dimasukkan penjara khusus (hhmmm, bayangin penjaranya Magneto dari komik/film X-Men yang terbuat seluruhnya dari serat kaca non metal, lalu ubah unsur metal menjadi gelombang, nah gitu deh kayaknya *_*) - lalu masing-masing anak punya keluarganya sendiri-sendiri, ya, itu termasuk juga si kecil Connie yang akhirnya diadopsi Mr. Benedict, terus mereka semua hidup berdekatan dan bahagia selama-lamanya.... or so it's seems to be. T A M A T.



Persahabatan dan Petualangan. Itulah inti cerita dari ketiga buku Persekutuan Misterius Benedict ini. Sebuah cerita anak-anak dengan bumbu sci-fi yang terasa unik di tengah-tengah derasnya tema high-fantasy, sihir, peri, naga, vampir, hantu dan lain sebagainya. Mengingatkan pada era sebelum anak sebelas tahun yang lain mengguncang dunia pustaka dengan tongkat sihirnya. Saat membaca buku ini, sedikit banyak saya jadi teringat karya-karya petualangan Tante Enid Blyton; atau satu seri kesayangan saya dari Jerman waktu masih berseragam putih merah dahulu kala, TKKG (yang diterjemahkan di Indonesia menjadi serial STOP). Hanya saja, jika serial jaman dahulu kala itu tipis-tipis (sekitar 100-150 halaman format buku saku), ketiga buku ini tuebal sekali (rata-rata 500 halaman format buku standar). Selain itu, ada beberapa ide kisahnya yang terasa sedikit rumit untuk pikiran anak-anak. Dengan tokoh-tokoh pada kisaran usia 11-13 tahun (kecuali Connie yang ajaib dan berumur 4 tahun) saya mengasumsikan target pembacanya anak-anak berusia sekitar awal belasan ya.
(kelas 5-8? atau malah lebih muda kelas 3-4? saya baca Lima Sekawan mulai kelas 2, sebuku bacanya laaamaa banget bisa seminggu. minjem perpus, musti pake diperpanjang untuk minggu keduanya. ngabisin buku tante Enid dari stok perpus. suka ngebayangin kalo sekolah di sekolah berasrama. atau ngiler baca menu pikniknya. :p abis itu pindah seri Trio Detektif. dari situ jadi kecanduan novel misteri. mulai smp mulai ngoleksi bukunya tante Agatha. *eh kok malah nostalgila segh*).

Yah, balik ke ceritanya, nah, IMHO tindakan-tindakan seperti saat Mr. Curtain menghapus ingatan SQ Pedalian karena ia menyayanginya dan tak mau SQ berpikiran jahat padanya (buku #3), atau saat motivasi Kapten Kapal Shortcut memberi hadiah berlian curian pada Reynie maupun kecurigaan Reynie pada niat si Kapten (buku #2), atau kisah carut-marut keluarga orang-tua Mr. Benedict dan Mr. Curtain (buku #1-3) akan sedikit sulit diterima oleh bocah-bocah yang belum abg itu. (tapi, jika mereka berniat baca buku segedhe buku ini, berarti mereka cukup 'kutubuku' juga, dan kerenanya harusnya cukup pandai, dan bisa berpikir, dst, dst. Jadi abaikan saja alinea ini #eh?).

Hal lain yang sangat bagus dari ketiga buku ini adalah teka-teki (riddle) yang bertaburan di sepanjang cerita. Ini contohnya:

The answer to this riddle has a hole in the middle,
And some have been known to fall in it.
In tennis it's nothing, but it can be received,
And sometimes a person may win it.
Though not seen or heard it may be percieved,
Like princes or bees it's in clover.
The answer to this riddle has a hole in the middle,
And without it one cannot start over.

Tahu jawabnya?

Nb: edisi terjemahan Bahasa Indonesianya, bagus sekali. Niat sekali menterjemahkannya sampai hampir semua teka-teki dialih bahasakan dengan pas, bahkan sampai kesalahan mengurai kode Morse yang jadinya terbaca "ke mana rebend era". Sedangkan typo hampir tidak ada.

Sunday, September 16, 2012

The Alchemist and the Angel



Title: The Alchemist and the Angel
Original Title: The Alchemist and the Angel
Author: Joanne Owen
Publisher: Ufuk Publishing (2011)
ISBN: 9786028801850
Pages: 360 pages
Original Published Date: 2010




Meskipun ceritanya sangat standar YA Fantasy, tapi saya sangat suka buku ini. Mungkin karena mood saat membaca yang lagi baik, atau memang ceritanya asik, ringan walau sedikit gelap, dengan aura sihir dan petualangan yang kental.

Cover
Ilustrasi sampulnya unik, sebuah ilusi optikal. Kita bisa memilih untuk melihat gambar 2 orang bocah, dua buah pohon, sebuah ampul cairan eliksir dan sederetan nisan (dan banyak detil-detil lainnya), atau kita bisa melihat sebuah tengkorak. Ya, tengkorak (sudah lihat? kalau belum menjauhlah sedikit dari layar, dan lihat bentuk dari kedua pohon, matanya pada gambar kedua anak dan gigi-giginya pada nisan...).

Ilustrasi-ilustrasi 
Dalam cerita banyak ilustrasi-ilustrasi lain yang tidak kalah unik. Yang jadi favoritku adalah gambar Mandrake dan gambar kupu-kupu dalam botol. Sayangnya, tidak seperti Abarat yang full color, semua gambar di sini hitam putih.



(lengkapnya lihat di sini)

Side Stories
Walau banyak yang bilang terganggu dengan side stories di buku ini, saya malah menyukainya. Kisah-kisah pendek sebagai selingan. Tidah ada hubungannya dengan cerita utama, tapi lebih menjelaskan setting atau sumber inspirasinya. Beberapa sudah saya kenal sebelumnya, seperti kisah Hera dengan burung merak dan seribu mata pada masing-masing ekornya. Yang lainnya adalah dongeng baru yang sama ajaibnya dengan kisah utama.

Alur cerita
Bersetting di Vienna dan Praha abad 16, kisahnya berkisar tentang kehidupan para alkemis yang sibuk mencari rahasia kehidupan. Cara mengubah benda menjadi emas dan cairan eliksir yang mampu memperpanjang umur manusia. Juga tentang wabah pes yang melanda kota-kota di Eropa saat itu. Suka kelokan ceritanya, terutama tentang ambisi Greta, tapi sedikit kecewa karena Croll ternyata benar-benar orang baik. #eh :p
Gak sukanya karena endingnya terlalu mudah. *ya iyalah, ini kan YA Fantasy, bukan Grotesque!*
Dan kemudian mereka berdua live happily ever after.
#jyaaahhh....

Lemari Benda-benda Aneh Raja Rudolph
Wunderkammer sering disebut-sebut dalam kisah ini tapi sedikit sekali dijabarkan detil-detilnya. Jadi pengin tahu lebih banyak....

Ini dari wikipedia
Ini dari homepage Wunderkammer

Dan ini kira-kira gambaran tentang Wunderkammer



Monday, April 02, 2012

It's Quite True

Judul Cerpen: It's Quite True
Pengarang: Hans Christian Andersen

Mengingat masa kecil dulu, tidak terlupakan kesukaanku pada dongeng dan cerita. Mulai dari fabel tradisional seperti Si Kancil, sampai dongeng Putri Salju, dari kisah Lebai Malang sampai petualangan Aladin dan lampu ajaibnya. Semuanya kudengarkan dan kuingat-ingat dengan baik. Namun beranjak besar, dongeng-dongeng karya Hans Christian Andersen-lah yang paling meninggalkan kesan dalam benak.

Fairy Tales by HC Andersen (Penguin Popular Classic)Ceritanya tidak melulu tentang putri-putri yang menunggu 'prince charming'-nya datang untuk menyelamatkan dirinya, atau bahwa semua yang diperlukan dalam hidup hanyalah budi baik dan kecantikan rapuh. Satu hal lagi yang paling penting, tidak semua ceritanya berakhir dengan 'mereka hidup bahagia selama-lamanya!' Dongeng HC Andersen juga memperlihatkan bahwa kadang-kadang kita juga perlu berkorban untuk melihat orang yang kita cintai berbahagia (Little Mermaid), menunjukkan bagaimana orang banyak dapat bersikap demikian munafik (Emperor's New Clothes), mengajarkan untuk belajar hidup mandiri (Ugly Duckling), atau bahkan yang kenyataan yang menyedihkan, kematian (Little Match Girl)!

Nah, ada satu fabel HCA yang sangat menarik yang berjudul It's Quite True. Begini ceritanya:
Alkisah ada seekor ayam betina di sebuah peternakan. Saat sedang membersihkan dan menghaluskan (preening) bulu-bulunya sebelum tidur, selembar bulu halus lepas, sehingga dia berkata bahwa semakin ia menghaluskan bulu-bulunya, semakin cantiklah dia jadinya. Seekor ayam betina lain mendengar itu dan meneruskan pada seekor burung hantu bahwa ada ayam yang ingin mencabut semua bulunya agar terlihat cantik. Burung hantu bergosip pada burung dara, dan kisah seekor ayam sekarang menjadi dua ekor. Burung dara terbang ke peternakan tetangga, dan menceritakan bahwa dua ekor ayam mati karena mereka mencabut semua bulu-bulunya untuk menarik perhatian si ayam jago. Cerita ini didengar si kelelawar dan diteruskan ke peternakan lainnya. Dari peternakan ke peternakan, dari mulut ke mulut. Demikian selanjutnya, hingga di pagi hari, cerita ini kembali ke peternakan semula. Kisahnya kini sudah menjadi lima ekor ayam berusaha mencabut semua bulu-bulunya dengan heboh sampai berdarah-darah dan mati, demi cinta seekor Ayam Jago. Tentu saja si ayam betina yang hanya kehilangan selembar bulu halusnya sudah tidak mengenali kisahnya sendiri, dan mengutuk keras peristiwa itu!
Pertama kali membaca dongeng ini, aku tidak bisa menahan tawa. Gosip oh gosip..., betapa kejamnya dirimu. Betapa sebuah tindakan, yang disampaikan dengan perkataan dari mulut ke mulut, dapat dipelintir maknanya sedemikian hingga tidak ada lagi kebenaran di dalamnya. Memang sih, 'tidak mungkin ada asap tanpa api'. Tapi kalau yang ini, ibaratnya api buat bakar sate, dibilang kebakaran hutan. Tapi mungkin memang itulah yang hendak disampaikan pengarang pada pembacanya. Bahwa dari sekian banyak cerita, berita, dan kisah yang kita dengar setiap hari, seberapa terpercayakah sumber berita-berita tersebut. Berapa persenkah dari keseluruhan kisah yang benar-benar terjadi. Dan di jaman di mana arus informasi mengalir sedemikian derasnya, dongeng HC Andersen yang satu ini sungguh pas untuk jadi bahan pemikiran.

***
Hans Christian Andersen
Hans Christian Andersen (2 April 1805– 4 August 1875) adalah pengarang, penulis dongeng anak dan puisi kelahiran Denmark. Karya-karyanya telah diterjemahkan lebih dari 150 bahasa di dunia dan telah diadaptasi dalam berbagai cara; film layar lebar,pertunjukan drama, pertunjukan balet dan juga film animasi. Dongeng-dongengnya yang lain (selain yang telah disebut di atas) termasuk Thumbelina, The Snow Queen, The Princess and the Pea, The Chimney Sweep dan The Stedfast Tin Soldier.
HC Andersen terjatuh dari tempat tidurnya di Rolighed -rumahnya di dekat kota Copenhagen- di musim semi 1875 dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 4 Agustus 1875.
Sebuah patung putri duyung dibangun di pantai kota Copenhagen untuk mengenang Andersen dan kisah Little Mermaidnya. Sedangkan di Central Park, kota New York, ada sebuah patung dirinya sedang duduk bersama seekor itik untuk menggambarkan kisah Ugly Duckling.

***

Review ini ikut disertakan pada event Baca Bareng Cerpen Klasik yang diselenggarakan oleh Blog Baca Klasik dan Penerbit Serambi.

Friday, August 08, 2008

De Brief voor de Koning

briefdekoning
"Speak truthfully, Tiuri," the King continues, "should you had the opportunity to do solitary, and should you heard the cry for help again.... what would you do?"
Tiuri looks up to the King. Suddenly he feel so certain.
"Than I should do what I did," answer he.
King Dagonaut nods, "You will do what you did, even though you know the consequences. So be the consequences come upon you."


Not very often that I read a literature from Europe Continent, even though one of my favorite writer is Leo Tolstoy and my fairy tales fav for all times is HC Andersen's. And I think this is the first time for me to read a classic Dutch book. The title is De Brief voor de Koning - A Letter for the King, written by Tonke Dragt in 1962, and it had got some awards in its homeland, namely Prijs voor het Beste Kinderboek voor het Jaar 1963 (Price for the Best Children Book Year 1963) and Griffel der Griffels 1955 - 2004 (Script among Scripts 1955 - 2004).

My first impressions while reading the books are that it is worth those prices and - in the same time - it is a short and uncomplicated version of JRRT's Lord of the Rings. There is a young and un-experience boy, choose to carry a burden for a greater good, walk a long and dangerous journey, and by doing that, he save the world, found true friend, and most importantly he grew up to be a well respected man.

So, in one hand, it is a very nice story telling, but in another hand, the ground ideas are common and usual, no twisted ending or startled plot. The best surprises ever come is the incident with the Grey Riders and Mistrinaut Castle, when friends and foes are mixed. The dazzling figure which is the slightly crazy boy from forest hut, is not developed into something awesome, instead he became just a supplement object. The main villain, The Dark Rider with Red Shield is never bring to justice or even being found out his real face. Even though the story is about the hero's journey, I feel that fact as a stumbling block, like the story is not ended properly.

In Indonesia, this book is translated and published by Pena Wormer Publisher with the support from Foundation for Production and Translation of Dutch Literature. The translation and editing is somewhat awkward getting used to read books with perfect translation using Indonesian EYD from Gm and GPU. This book use old Malay vocabularies like "bengawan" (=river) or "pemalaman" (=inn) or "menyarap" instead of "sarapan" (=having breakfast) and sometimes and old Dutch influences vocabularies like "slag" or "kastel" and A LOT of informal grammar. For this, I don't quite sure if it is supposedly to be written that way to give readers the sense of old Dutch literary, or it because the translator just too sloppy. The same way the spelling is all around with too many mistakes.

Another flaw that really irritating is the complimentary map in this book is all mess up. It is not translated, blurred and most annoyed thing, it is placed upside-down, or to be exact, rightside-left. It took me sometimes to realize it, and it was a quite frustrating process.

But by and by, I really like this book. The story is flowing naturally, the hero character is creepingly developed, and the moral of the story is written bluntly yet smoothly implicit in the whole book. I consider it as a valuable goods to enriched my library. -Danke-