Monday, May 06, 2013

Annarasumanara

             

Title: Annarasumanara #1 - 3
Original Title: 안나라수마나라 [Annarasumanara]  #1 - 3
Author: 하일권 Ha Il Gwon
Publisher: 소담출판사  (2010)
ISBN #1: 9788973816538
ISBN #2: 9788973816545
ISBN #3: 9788973816552
Pages: 328 (each)

Well, I guess the Hallyu fever does not stop with cars, electronics and K-Pop. After so many k-dramas  came flooding supersede the Jap's dorama, now the scope of literatures also open doors for us to peek inside Korean life and arts. Start with the celebrity picturesque book to movie/drama tie in novels and all their fan fiction stories filling up bookstores' shelves, now Man Hwa — korean graphic novels — also slowly piercing Japanesse Manga. Bride of Water God by Yun Mi Kyung, published by Elexmedia is one of the example (and oftenly mistaken to be mangas). The Color Trilogy  and Red Bycycle by Kim Dong Hwa are the most recent gn published by Gramedia Pustaka Utama, and targeted more broaden readers, as the beautiful detail graphics and more subtle stories. I just found another one — not been translated/published in Indonesia yet, but I hope maybe... soon.... — that story and graphics really intrigued me. The title was Annarasumanara. It was a mini series, just 3 thick books, but I trully enjoy reading them.


***

There are rumors going around town. They say that if you go to the old carnival, you'd see a dashing young man wearing a magician's hat — a man who has the power to make people disappear from the face of the earth. But before he does any magic, he will look you in the eye, stare at your soul with his grey eyes and ask,

"Do you believe in magic?"

Yoon Ah, a smart girl in her class, struggles to feed herself and her sister everyday. All she wants is to grow up faster so she can escape poverty and the reality of her miserable life. When she meets the rumored magician in the abandoned carnival, her life changes forever.

***

The story was really about two high-schoolers and a magician which try to learn the meaning to be a responsible adult in life. Yun Ah was a poor girl that had to took care herself and her little sister after her father took flight leaving behind a considerable amount of debt. She had no time for nonsense, always study hard, work hard, so she could go to the best univ and get a decent job in the future and never had to be a pauper ever again. Na Il Deung, while sharing her idealistic view of life, had the opposite social status. He came from rich powerful family, never had to work himself, got the best teachers and tutors money could buy. But both of them got their foundation shaken when they met each other and met with a magician —   real magician — name R. R was once like them; smart, best student in high school, ready to face life and adulthood. But something chaged his mind. Now, conciously or not, he tried to change Yun Ah mind and also Il Deung's. He reminded them that there are other things that equaly as important, friendship, family, having fun and laughter and love and trust, big dreams, and..... magic.

At first I had doubt of how the story will developed for each character, well, you had to admitted that they were not the most original characters after all. But along the line I love how the it played with the reality, was he a real magician or is he not, were they just a magic trick or a real magic, was it going to be a surreal or just plain old everyday world. And all of these were being clashed with everyday's real problems. such as poverty and hunger, debt collectors and exhibitionism, midterm test and students' rank. I also like the twist near the end, where R past time life came to haunt him once more, and forced Yun Ah and Il Deung to make choices. That being said, I really fancy how the graphics told the storyline. They were oftenly repetitive, so it sunk little by little and amplified the meaning. It did not have detail and beautiful like Bride of Water God or had vivid colors like Red Bycycle, it was mostly black and white with contemporarly mixed pictures and splash colors, odd but unexpectedly lovely. The used of the panels were very free style and not affraid to use whole area and double pages to convey the meaning.  The image of the characters also differ from time to time to elucidated their feelings (like the long neck Il Deung -the way he see himself vs the handsome Il Deung -the real image of him in everyone's eyes). So, by and by, it was a nice story with peculiar graphic novel, but in every good way possible, and I'm glad I read it. Hope to find more from the same writer in the future.

               

Ah yes, and  Annarasumanara actually does not have any meaning. It was a made up word that commonly used in webtoon and manhwa community in equated to Abracadabra or something like that. Weird.... isn't it?!

Thursday, May 02, 2013

Musashi


Title: Musashi
Original Title: 宮本武蔵 Miyamoto Musashi
Author: Eiji Yoshikawa
Publisher: Gramedia Pustaka Utama  (2001)
ISBN: 9789796556038
Pages: 1247 pages (Hardcover Ed.)
Original Published Date: 1935



Cuplikan dari sinopsis:
Miyamoto Musashi adalah anak desa yang bercita-cita menjadi samurai sejati. Di tahun 1600 yang penuh pergolakan itu. ia menceburkan diri ke dalam Pertempuran Sekigahara tanpa menyadari betul apa yang diperbuatnya. Setelah pertempuran berakhir, ia mendapati dirinya terbaring kalah dan terluka di tengah ribuan mayat yang bergelimpangan. Dalam perjalanan pulang, ia melakukan tindakan gegabah yang membuatnya menjadi buronan - hingga seorang pendeta Zen berhasil menaklukkannya.

Yaayyy.... akhirnya buku bantal ini selesai juga. Sebenarnya buku (pinjeman) ini dijadwalkan untuk dibaca selama setahun (sekitar 100-an halaman sebulan), tapi setelah sampai di buku 4, di saat Sasaki Kojiro-nya sudah muncul, eh kok malah keterusaaaaan bacanya. Yah, jadinya di awal bulan Mei ini setoran ripiunya sudah bisa ditulisken. Oiya, ini jadi bagian dari Yoshikawa Reading Challenge yang diadakan oleh Mas Tezar di blog-nya.

Dua Jalan
Musashi vs Matahachi
Kisah dibuka dengan seting akhir Pertempuran Sekigahara. Shimmen Takezo dan Honiden Matahachi, dua sahabat berasal dari kampung yang sama di daerah Miyamoto bertemu dengan pasangan ibu dan anak gadisnya, Oko dan Akemi, yang kemudian berpengaruh sangat besar pada jalan hidup keduanya. Matahachi memilih jalan kesenangan duniawi dan minggat bersama Oko, sedangkan Takezo, dengan sisa-sisa sifat heroiknya yang masih ada, memilih pulang kampung, meski di sana ia harus berhadapan
Pohon Kriptomeria
dengan Osugi, ibu Matahachi yang beranggapan bahwa Takezo-lah yang membuat anaknya jadi durhaka, dan juga Otsu, tunangan Matahachi yang merana ditinggalkan sang kekasih begitu saja. Selain itu, tuduhan menjadi desertir perang, dan karena sifatnya yang mudah naik darah membuatnya tak sengaja membunuh beberapa samurai penjaga, juga tersemat pada Takezo. Untunglah, dengan bantuan Otsu, kemudian ia bertemu dengan seorang pendeta Zen bernama Takuan, yang memberinya pencerahan dan perkenalan pada jalan pedang sejati sembari mengikatnya di sebatang pohon Kriptomeria. Kemudian, setelah dikurung dalam kamar isolasi selama tiga tahun, Takezo diampuni oleh sang Daimyo pemilik benteng bahkan dianugerahi nama baru: Miyamoto Musashi. Meski ditawari jabatan, Musashi memilih untuk mengembara dan terus mengasah jalan pedangnya. Satu pelajaran dari Takuan yang selalu mengiringinya adalah, sebagai Samurai ia memang harus tidak takut mati untuk menjunjung kehormatannya, namun sebagai manusia, ia juga harus menjunjung tinggi hidupnya, tidak boleh mati sia-sia.

Sepanjang kisah ini, perbedaan nilai hidup Musashi dan Matahachi selalu dikedepankan. Sementara Musashi selalu sibuk mendisiplinkan diri, belajar dari semua hal yang dilewatinya, menelan pahitnya tuduhan dan fitnah Osugi (sebel banget nih sama si nenek sangar, bukannya ngurusin anaknya sendiri, eh malah ngejar-ngejar Musashi), menguji kesetiaan cintanya pada Otsu, dst... Matahachi lebih sering memilih jalan yang mudah, menipu, merendahkan diri, bahkan di paruh akhir kisah, sempat ditipu untuk menjadi agen pemberontak demi imbalan 40 keping uang emas. Meski demikian, tampaknya Yoshikawa Sensei masih berpendapat bahwa jalan pertobatan masih terbuka kapanpun diinginkan. dengan bantuan Takuan dan seorang pendeta bernama Gudo (yang juga memberi pencerahan untuk kesempurnaan ilmu pedang Musashi), Matahachi akhirnya menemukan jalan kehidupannya sendiri.

Musashi vs Kojiro
Sasaki Kojiro adalah seorang jenius ilmu pedang, yang telah menyempurnakan ilmunya saat masih sangat muda. Mulai saat kemunculannya di akhir buku 3, jalan hidup Kojiro dan Musashi saling berbelit hingga puncaknya saat duel keduanya di akhir kisah ini. Kojiro sendiri, sebenarnya bukan tokoh yang buruk, hanya saja ia sedikit sombong dan bertipe birokrat politikus. Sangat pandai berkata-kata dan memanipulasi orang demi kepentingannya. Bahkan saya juga sering terbawa kesopanan dan keanggunan-nya membawa diri sehingga bersimpati kepadanya, apalagi saat menyadari, ternyata ia sungguh-sungguh menyukai Akemi (kasihan...kasihan....)

Dua Murid
Jotaro vs Iori
Dikisahkan di novel bantal ini, bahwa Musashi memiliki dua orang murid, Jotaro dan Iori (ada juga  Gonnosuke yang juga menganggap Musashi sebagai gurunya, meski ia kemudian mengembangkan gaya pertarungannya sendiri). Walaupun banyak mengisahkan tentang jalan hidup keduanya, tapi dari sudut pandang Musashi sendiri dapat juga dilihat sebagai penilaian kesiapannya untuk menjadi seorang Guru. Saat ia bersedia mengambil Jotaro sebagai murid, meskipun ilmu pedangnya sudah sangat hebat, sebagai manusia bisa dibilang ia masih setengah matang (dan sering galau!). Jadi, selama perjalanannya dengan Jotaro, mereka berdua masih sama-sama belajar, dan akibatnya Jotaro sering terperosok dalam kesialan dan sempat juga dimanfaatkan oleh para pemberontak. Sedangkan saat bertemu Iori, ia sudah lebih siap mental, dan mengerti pemanfaatan jalan pedang secara lebih menyeluruh. Hasilnya, latihan kedisplinan dan nilai-nilai seorang Samurai lebih terasa pada Iori (meskipun sifat Iori yang lebih serius dibandingkan keliaran Jotaro juga berpengaruh sih).

Dua Wanita
Otsu vs Osugi
Ini adalah kedua wanita yang dikecewakan Matahachi saat ia kabur bersama Oko. Satu adalah tunangannya, yang lain adalah ibunya. Namun keduanya bereaksi sangat berbeda terhadap si pembawa kabar buruk. Osugi bersumpah mengalahkan Takezo yang telah mempermalukan putranya, sedangkan Otsu pasrah menerimanya. Karakter Osugi ini benar-benar nenek-nenek menakutkan mengagumkan yang semangatnya tak terkalahkan waktu dan usia. Walaupun melihat Musashi dari sudut pandangnya sendiri yang super cupet, namun tidak bisa tidak, kegigihannya tak tertandingi. Sayangnya, dari segi cerita, bisa dikatakan setengah nasib buruk Musashi disebabkan oleh cerita kesalahan Musashi versi Osugi. Jadi super bete, kalau si nenek ini sudah muncul.Ending untuk karakter ini dibuat lumayan lunak menurut saya. *penginnya tuh, si nenek mendapat kesialan beruntun-runtun-runtun, supaya sebanding dengan penderitaan Musashi selama ini* :p
Di sisi lain, Otsu adalah karakter cewek super feminin -namun tidak kalah gigih- yang rela berkorban apapun  cintanya pada Musashi. Setelah diputuskan pertunangannya secara sepihak oleh Matahachi, perlahan-lahan hatinya berpindah ke Musashi, dan ia rela menunggu bertahun-tahun saat Musashi lebih memilih disiplin diri dan jalan pedang. Akhir kisah cinta keduanya dibuat menggantung oleh Yoshikawa Sensei, meskipun mungkin lebih baik begitu, daripada dapet sedihnya kalau dijelaskan lebih lanjut *mewek*

Otsu vs Akemi
Ada Otsu, adapula Akemi. Keduanya mendambakan Musashi, meskipun banyak pula yang menginginkan mereka. Pada Otsu, selain Matahachi, ada Aoki Tanzaemon dan Yagyu Hyogo. Pada Akemi, selain cinta tak kesampaian Sasaki Kojiro, adapula Yoshioka Seijuro dan tentu saja si sableng Matahachi. Walau kehidupan mereka sangat berbeda, saya merasa jalan yang mereka tempuh sama tragisnya.

Dua Pedang
Miyamoto Musashi in his prime, wielding twobokken.
Woodblock print by Utagawa Kuniyoshi

Niten'ichi Ryu (kanji 二天一 berarti dua langit menjadi satu)  secara harafiah berarti, "Dua Langit, Satu Perguruan", meski dapat juga berarti "Dua pedang, Satu Semangat", atau "Dua Pedang, Satu Gaya". Hal ini mengacu pada gaya bertempur Musashi yang menggunakan pedang di masing-masing tangannya. Ia berpendapat bahwa kedua tangan memiliki fungsinya masing-masing dan harus bergerak dalam satu kesatuan dan jiwa. Meskipun sering menggunakan 2 pedang sekaligus dalam pertempuran, gaya ini baru disempurnakannya saat bertemu Pendeta Gudo, yang intinya mengajarkan bahwa sebagai manusia ia harus menjadi utuh, lingkaran sempurna, pedangnya harus menyatu dengan semangatnya.

Di akhir kisah, setelah duelnya dengan Kojiro, Musashi berpendapat bahwa ia lebih mendalami jiwa semangat seorang Samurai sedangkan Kojiro lebih mendalami jiwa ilmu dan kecakapan. Keduanya sama hebatnya, sama pentingnya, hanya saja, di titik yang paling menentukan, semangat dan motivasi sedikit lebih unggul daripada kepandaian semata (tapi menurut saya sih, keinginan untuk tetap hidup dari seorang Musashi lebih berpengaruh daripada keinginan untuk menang dari seorang Sasaki Kojiro) *tiba-tiba terbayang pelm Negeri Lima Menara, saat Pak Gurunya bilang Manjadda wajada sambil menggolok kayu* *eh, apa hubungannya? ya gitu deh, pokoknya.... *
Gaya 2 pedang dan semangat samurai ini kemudian menjadi dasar gaya Niten'ichi Ryu, perguruan pedang Musashi di kemudian hari.


Mengenai bukunya sendiri, setelah berlambat-lambat di buku 1 dan 2, dari buku 3 mulai seru dan beralur cepat, bernas dan memukau. Hanya saja menjelang akhir-akhir, terasa beberapa hal dipadatkan dan terlalu melompat-lompat (seperti karakter Pendeta Gudo yang seperti tiba-tiba muncul dari antah berantah lalu hilang lagi begitu saja, Jotaro yang tiba-tiba sudah jadi Samurai, atau Osugi yang tiba-tiba saja dengan mudah sadar total). Duel finalnya juga setingnya seperti dipaksakan, tidak mengalir dan detail seperti di pertengahan kisah, saat Musashi berkali-kali melawan Perguruan Yoshioka atau pengikut-pengikutnya Tuan Yagyu Sekishusai. Tampaknya 1247 halaman ini memang kuraaaaaaang, encore... encore...... 

Untuk adegan yang paling memorable adalah saat Musashi ditantang oleh sejumlah orang (gak penting) di sebuah penginapan. Bukannya berangasan menanggapi tantangan dan ejekan mereka, ia malah dengan santainya meneruskan makan soba sambil sumpitnya menjentik-jentik sesuatu. Keheranan para penantang tersebut berubah menjadi ketakutan saat menyadari bahwa Musashi sedang menangkapi lalat satu per satu hanya dengan menjentikan sumpitnya. Musashi mencapai tingkat memenangkan pertempuran tanpa harus sungguh-sungguh berkelahi. Awesome! *waktu baca ini, teringat Mr. Miyagi-nya Karate Kid yang juga berusaha nangkep lalat pake sumpit, huihihihi....* *Karate Kid?? ketahuan umurnya tuh!*

Sedangkan endingnya sendiri, bisa dibilang khas Eiji Yoshikawa, sedikit menggantung, menghilangkan kisah-kisah tragis di latar belakang.



Rambling lain-lain lagi:
Waktu di serinya Michael Scott The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel #3 itu Scatach ketemu Niten yang katanya Samurai terbaik sepanjang masa. Eh bodohnya saya, baru nyadar sekarang kalo itu mangsutnya ya si Musashi ini.... *waaah..., Musashi jadi Immortal*

Shrike on a Dead Branch,
by Miyamoto Musashi
Gorin No Sho
Buku Musashi ini dibagi menjadi 7 buku, 5 di antaranya mengacu pada tulisan karya Musashi sendiri yang diberi judul Gorin no Sho (五輪書) -- Buku/Tulisan tentang 5 kesatuan (The Book of Five Rings) yaitu, The Book of Earth (Tanah), The Book of Water (Air), The Book of Fire (Api), The Book of Wind (karakter kanji 風 dapat berarti "Angin" dan "Gaya") dan The Book of the Void (Langit atau Kehampaan). Sedangkan buku keenam dan ketujuh, oleh Yoshikawa Sensei diberi judul Matahari dan Bulan dan Cahaya Sempurna.

Dalam bukunya, Musashi menjabarkan tentang teknik pedangnya, serta semangat samurainya. Buku ini ternyata masih sering digunakan dan diterjemahkan bukan hanya untuk penggemar seni bela diri, tetapi juga untuk khalayak luas, misalnya untuk pelaku bisnis dalam mengelola konflik dan mempelajari filosofi disiplin dan motivasinya. *asli baru tahu*

Lukisan dan Patung
Di buku ini, diceritakan Musashi mengambil jalan-jalan lain selain jalan pedang untuk mendisplinkan diri, seperi mengukir patung dan melukis. Ternyata, hasil lukisan asli Musashi masih ada sampai sekarang, salah satunya ya yang di sebelah itu. Lukisan ini sangat mengingatkan pada deskripsi lukisan di buku, yang diberikannya pada Kobayashi, si pedagang yang sempat mengasuh Iori dan menampung Musashi sebelum duelnya dengan Kojiro.



Additional source & further reading:
http://en.wikipedia.org/wiki/Miyamoto_Musashi
http://en.wikipedia.org/wiki/Musashi_(novel)
http://en.wikipedia.org/wiki/The_Book_of_Five_Rings
http://en.wikipedia.org/wiki/Cryptomeria

Tuesday, February 05, 2013

Prince of Thorns

Title: The Prince of Thorns
Series: Broken Empire #1
Author: Mark Lawrence
Publisher: Ufuk Fantasy Pbl (2011)
ISBN:9786021834930
Pages: 512 pages
Original Published Date: 2011
Literary awards: David Gemmell Morningstar Award Nominee (2012), Goodreads Choice Award Finalist for Best Fantasy (2011)


RULE BY THE SWORD

Looking at the reviews' page of this book, clearly that this is whether LOVE it or HATE it kind of book, no medial rating. For me, after pass through the shocked of first few pages, I completely drawn in his rage and ambition. If Jorg is one badass 13 year old boy warrior, so be it. He had his reasons, very good ones too. If his ambition subdues his willingness to repent, lets just see how far it would take him. Part of me wanted him to be death, burned in all eternity for all his impious cruelty, but larger part of me call for the best wishes still exist for the young prince. D*mn you Jorg!

Jorg, Katherine, Sir Malkin and The Nuba
Taken from enife.deviantart.com

For the story sake, it was great that it gave no time to waste for reasoning for his nasty behaviour. His mother and brother slayed, his father made their death a comodity. That made him thirsty of avenging, a frenzy madness that made him see no different of killing one people or few hundreds, burning fields after fields, in return of victory. No lingering explainations. That just it. Period. If there was an explaination, it was for his action -which he gave to his brothers one time or another- and that just to add terror in his resume.

I also liked the twists near the end. That thing his father did to him, well, didn't expected that, I thought it's gonna be the other way around.  [**No, take that back, if a king could turn his queen and son's death into bargain of war, what stop him to do it again with his other son. I should have seen it came miles away.**] Jorg was filthy, his father was filthier. And that last turned with the necromancies and what they've done in the kingdoms, it set the story to whole other direction. Wonder how it's gonna fit with Jorg's big scheme. King by 15, Emperor by 20.


One thing that I found a little off in this story was that mechanical voice guarding the big door under the red castle. I mean, it's a bit ludicrous and certainly out of place. Name and Password. 1111 years. In the land far far away? Then, it was a useless jest, because the door was unlock??!? oh, plueeaaasseee..... --> *Luke Jorg, I am your father.* *whoops, wrong dream* T_T

So, Jorg, you obviously well educated and quick wit, strong will and never waver, sometimes a poet on you even emerged, a suitable material for such an Emperor. But like that glowing leucrota kid said, you'll need a reason to fight your war. I hope you'll find a good one, and sit on your throne without too much darkness behind you. It's been a while since I found such a worthy antihero. I'll see you again in the next book.


         

Ranger's (no longer) Apprentice



Title: The Sorcerer in the North
Series: Ranger's Apprentice #5
Author: John Flanagan
Publisher: Random House Australia
ISBN: 9781864719086
Pages: 336 pages
Original Published Date: 2009

Series: Ranger's Apprentice #6
Author: John Flanagan
Publisher: Random House Australia
ISBN: 9781864719093
Pages: 328 pages
Original Published Date: 2009


"So what do you plan to do now?" said Malcolm.
"Now, we head back to the forest," Will said, giving in to the inevitable.
Xander looked at him curiously. The young Ranger seemed to be admitting defeat, but there was a note of grim determination in his voice. Xander knew that this matter was a long way from finished.
"What then?" he asked.
Will turned to face him. The deep cowl of his cloak hid the top part of his face in shadow. Xander could see only the mouth and the determined set of his jaw.

"Then," he said, "I'm getting Alyss out of your damned castle — if I have to take it apart stone by stone to do it."


Will, now a full fledge Ranger, had assigned to his own fief, a nice tranquil fief with nice comfy hut on his own. But even that quite environment had its own problems. He hadn't even got to his fief when he had the taste of  it in a form of a dog was lying three-quarter death in the side of the road. *this dog had a different eye colors, brown and blue. funny that heterochromia has been a theme on few of the novels that I read, people, dogs, cats. Oh, I'm mumbling again. Sorry....* With this he heard his first issue, John Buttle. Hadn't have the change to tidy this thing up, another wave came hitting. Now in the faces of Skandian wolf ship home for 30ish hungry skandian sailor in their last raiding party before winter. But he wouldn't be a ranger if he couldn't deviously walked his way out in one nutty swap.

And while these things haven't even cooled down, Alyss came with his new hush hush mission. He had to post as a joker and found out what happend on Macindaw Castle, up in the north. Macindaw might be small, but it had great importance of guarding the boundary with the Scotty. So, the Lord of Macindaw was severly ill, could be poisoned, and his son was the suspect and his nephew looked like very decent heir. But, what is a good adventure without a little twist, yeah, it was the other way around with that son and nephew. So Will had to take refugee to the forrest, in the hand of Malcolm the Sorcerer. The thing was.... that silly Lady Gwendoline was left behind in the castle, and Lady Gwendoline was actually Alyss undercover. 

To help Will, Crowley and Halt sent *who else* Horace. Added to this duo, 25 Skandian as soldier of fortune. Alyss, now held in the tower, acted as their eyes from inside. And lastly, Malcolm the Sorcerer and his deformed people complete the mix. That's all thay had to take down a castle, get the girl and prevented the Scotty for drawing a new border line.

***

In my personal opinion, these installments are the best of the series. I mean, it's very pleasant to watch Will -and Horace- in their mature life. Will always had his determination, but from time to time, its overshadowed by Halt's authority. Now he's like blossoming out of his master's silk. That thing he's done with the Skandian in the shore of his fief, that's epic. I can totally imagine him calmly -but deathly- threatening Gundar, "It's hard thing to do with only ten men!" *applaud* And in the end of the previous book, when he said he'd rescued Alyss even if it means to tore Macindaw Castle brick by brick, I truly believed that he would. *more applaud* *encore... encore* More than that, I think it also very adult thing to admit that he needed plans, he needed help and he needed more time to do all that. He knew there was other things in stake here, and... he also trusted Alyss that she could take care herself for the time being. He did not do a reckless and sudden moved that -I believe- he would do if the setting were two or three years before (like in Skandia, where he just jumped and tried to save Evanlyn from the Temujais). No. He'd still had his head cool even though we know how his heart in rage. One more thing, when he decided to leave Shadow with Trubar, just because Trubar needed her more that he did, that's really made my heart melt. Oohhh...... *standing ova*

Horace, unexpectedly, was more mature and sensitive than what I had him taken credited for. His battle and strategic ability was of course out of question. It was how he handle his relationship with Will, and how he's supporting both Will and Alyss that made me admire him. He definitely not stupid war machine he always said he was. But it also deligthful and so natural to see him and Will, not just watched each other back, but also acted childish and picking on each other. 

As for Halt and Crowley, they just watched their boys worked from behind the scene now, but omg, their scene were hillarious. It's nice to see Halt out of his serious grave mask and relaxed a little bit.

If I had just one thing that annoyed me, it was the constant remainder of how ranger's cloak could camuflage them, made the melt in the environment *daa...* and how the rangers could walk without sound in the forrest, made them could sneak behind you unnoticed *we know*.  You don't have to write it down every time they move. Oh yeah... one more thing. We also constantly reminded that Rangers was this closed tight bound of an elite individual that knew each other by faces and names. But WHY when Will met that other ranger, they need to introduced to one another? Not in very friendly manner even. Why.... why.....


The Railway Children


Title: Anak-anak Kereta Api
Original Title: The Railway Children
Author: E. Nesbit
Publisher: PT Gramedia Pustaka Utama (2010)
ISBN: 9789792252576
Pages: 312 pages
Original Published Date: 1906


Buku anak-anak yang sebenarnya bagus ceritanya, tapi sedikit membosankan penceritaannya. Kita diceritakan bahwa ketiga anak ini - Bobbie, Peter dan Phillys- sedang bersenang-senang, tapi tidak terbaca bahwa mereka sedang bermain gembira. Atau bahwa mereka sedang sedih, tapi tidak menyentuh hati. Apalagi dengan POV orang ketiga, yang kadang-kadang menyelipkan 'pesan sponsor' untuk jadi anak baik, tabah, dst, dst, yah, jadinya... sedikit tanggung. Padahal latar belakang kisahnya cukup menjanjikan.


Tersebutlah sebuah keluarga, Ayah, Ibu dan tiga orang kakak beradik tinggal di London dengan bahagia. Tiba-tiba sang Ayah pergi menghilang, sedangkan si Ibu dan anak-anaknya pindah entah ke daerah mana, pokoknya rumah mereka itu sangat dekat dengan rel kereta api dan sebuah stasiun kecil. Di sini, ketiganya akhirnya berkenalan dengan pak kepala stasiun, pak porter dan dokter di desa, serta Direktur Kereta Api yang tiap pagi dan sore naik kereta melewati rel di belakang rumah mereka. Nah selama tinggal di pondok itu, ada beberapa petualangan yang cukup seru, misalnya:

1. menghentikan kereta yang lewat karena ada tanah longsor menutupi rel beberapa jauhnya dari situ *kata peter, mereka sudah tidak ada waktu lagi untuk pergi ke stasiun untuk memperingatkan kareta berikut yang akan lewat. tapi belakangan diceritakan tidak begitu jauh dari sana ada pondok penjaga sinyal kereta. ya, brarti kan tidak perlu ke stasiun, ke penjaga sinyal saja, supaya dia tidak memberikan semboyan 40 buat kereta yang mau lewat. tapi kalo begitu, kan kurang heroik kali ya, gak pake acara pingsan di rel kereta juga ;) *

2. menampung dan merawat seorang penulis Rusia bekas tahanan politik yang jadi tentara tapi desersi dan pergi ke Inggris untuk mencari istri dan anaknya *ok, seseorang yg bernasib seperti si Rusia ini bisa saja termotivasi untuk pergi ke London tanpa bisa berkata sepatah katapun bahasa Inggris. yang aneh di sini, sebenarnya setelah ia sampai di London waktu itu --jika tidak mengira harus ganti kereta, lalu sakit, lalu ditolong oleh si Ibu-- terus mau ngapain? nyari anak istrinya tanpa alamat tanpa kenalan tanpa uang tanpa sepatah katapun bahasa Inggris? termotivasi sih iya, kurang realistis juga sangat iya *

3. menyelamatkan bayi si tukang perahu dari kebakaran *uhhm... cuman heran saja, itu si tukang perahu marah-marah gitu cuman karena peter mau mancing, kenapa ya? *

4. dan menyelamatkan seorang anak yang patah kaki di terowongan gelap *ini kejadian yang paling aneh. si anak ini sedang mengikuti acara main jejak-kertas anak-anak sekolahannya. semua anak masuk ke terowongan, si kaus merah ini jatuh, patah tulang, dan pingsan, tapi tak ada satupun temannya yang tahu dan menolong. lalu meskipun tampaknya semua orang -termasuk pak perks si portir- tahu dan meskipun medannya cukup berbahaya, masuk terowongan kereta api yang gelap gulita, tapi tidak ada orang dewasa yang mengawasi jalannya permainan ini. Lebih lagi, mereka main jejak-kertas di terowongan gelap, tapi tidak membawa lampu, senter, lilin atau apapun...lalu mau cari jejaknya pakai apa? mata batin??!? *

Selain itu, yang juga rada aneh di mataku, kenapa anak-anak ini tidak bersekolah ya *Peter baru saja berulang tahun ke-10, kira-kira Bobbie dan Phillys berumur berapa ya?* Meskipun begitu di bagian akhir, saat si Ibu sudah tidak terlalu sibuk menulis lagi, ada beberapa kalimat yang menjelaskan bahwa mereka sekarang belajar bersama ibu mereka. Selain tidak bersekolah, juga tidak ada interaksi antara mereka dengan anak-anak lain dari desa mereka. (lagi-lagi) kenapa ya?

Tapi di balik semua rumble gak jelas di atas *lagi galau*, menurut aku ini buku anak-anak yang tak lekang oleh waktu. Kisahnya yang sederhana dan penuh petualangan pasti sangat disukai pembaca muda. Endingnya juga sangat melegakan. Everything's gonna be OK. The End :D

***

nb: oiya, satu lagi, edisi yang saya baca ini terbitan GPU Juni 2010, di cover buku ini dituliskan pengarangnya Edith Nesbit. Memang tidak salah sih, tapi setahu saya -CMIIW- 'trademark' beliau saat mengarang adalah mencantumkan nama E. Nesbit. Lalu... T_T